Kamis, 10 Februari 2022

 


Sejarah pondok pesantren alfatah temboro

 

Al-Fatah Temboro adalah salah satu Pondok Pesantren besar di Nusantara yang memiliki ribuan santri dan ratusan cabang yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu nama yang pernah memimpin pesantren besar ini adalah Kiai Uzairon Thaifur Abdillah (sekarang Pesantren al-Fatah Temboro dipimpin oleh Kiai Ubaidillah Ahror, adiknya Kiai Uzairon).


Plang papan pondok pesantren masih sederhana 1986

 

 

Kiai Uzairon termasuk ulama yang tak berpolitik. Beliau awalnya aktif dalam struktur NU khususnya wilayah Magetan, sebelum akhirnya mengundurkan diri dan ikut dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig. Pengaruh dan kontribusinya dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig sangatlah besar, terutama dalam membuat Jamaah Tablig bisa diterima di kalangan ulama-ulama Nusantara.

Kyai siddiq, kyai mahmud kholid, kyai gus Uzairon, kyai gus fatah, Kyai gus Ubaid, Gus yusuf, Gus Ahmad, Gus Mahmud


 

Menurut M. Kholid Syeirazi dalam tulisannya “Jamaah Tablig: ‘Salafi’ van India” yang dimuat di www.nu.or.id, bahwa Jamaah Tablig memiliki amaliyah layaknya NU. Pendapat Syeirazi dalam tulisannya ada benarnya, sebab para Jamaah Tablig di Indonesia adalah muslim yang suka salawatan, tahlilan, yasinan, dan umumnya tidak menolak amaliyah Islam Nusantara bahkan justru mengamalkannya. Hal ini tak lepas dari peran al-Fatah Temboro, yang merupakan pesantren pencetak ulama-ulama Jamaah Tablig.

 

                                plang 1986

Kiai Uzairan yang awalnya merupakan ulama NU, setelah ikut dakwah Jamaah Tablig tak meninggalkan amaliyah NU. Namun, tetap menghidupkannya, sehingga hal ini mempengaruhi para Jamaah Tablig yang kemudiaan mengamalkan amaliyah layaknya NU.

                               kegiatan pramuka didepan asrama syafii

 

Mengenal Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro

 

Pondok Pesantren al-Fatah Temboro berada di Desa Temboro, Kec. Karas, Kab. Magetan, Prov. Jawa Timur. Temboro merupakan desa di Magetan yang memiliki nuansa kehidupan yang Islami, dengan masyarakat yang sangat religius. Hampir seluruh warga di Desa Temboro merupakan santri Kiai Mahmud atau santri Kiai Uzairon. Ada yang sebagai santri yang belajar di Pondok, ada sebagai santri tarekat, dan ada sebagai santri dakwah (belajar pada Kiai saat kelana dakwah Jamaah Tablig). Ini membuat Desa Temboro terbangun sebagai Desa Santri. 

                                                      Kyai gus Uzairon masih muda
 


Di Desa Temboro ini lah, Pondok Pesantren al-Fatah dibangun oleh Kiai Siddiq–kakek Kiai Uzairon–pada tahun 1912 M. Al-Fatah Temboro tercatat sebagai pesantren tertua di Magetan. Kiai Siddiq yang mendirikan pesantren al-Fatah Temboro, merupakan salah satu pendiri NU wilayah Magetan dan merupakan Rais Aam pertama NU Magetan.

 

Pesantren al-Fatah Temboro termasuk pesantren besar di Nusantara yang memiliki ribuan santri dalam menuntut ilmu. Pada tahun 2019 tercatat ada 22.450 santri dan guru yang ada di Pesantren al-Fatah Temboro. Santri-santri di al-Fatah Temboro, tak hanya berasal dari wilayah sekitar Magetan, namun juga banyak yang berasal dari luar Magetan, luar Jawa, bahkan luar Indonesia–Malaysia, Thailand, Filipina, Cambodja, Vietnam, Papua Nugini, Singapura, Tunisia, Selandia Baru, dan Cina. (Sumber: Majalah Elhujjah, edisi 15, Agustus 2019).

                            sebelah kanan aula abu bakar sebelah kiri depan komple syarif hidayatullah


Al-Fatah Temboro merupakan pesantren berpaham Aswaja yang dalam fikih berpaham Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tasawuf Naqsabandiyah Khalidiyah, serta menganut paham Tabligiyah dalam usaha dakwah Islam. Pesantren ini mengamalkan berbagai amaliyah Islam Nusantara, misal istighosa berjamaah yang rutin dilakukan setelah salat tahajud. 

                           Bermain pinpong depan komplek nur muhamad

 

Warga Pesantren al-Fatah Temboro sangat memuliakan semua yang berhubungan dengan ilmu agama. Misalnya, saat mau memasuki Pesantren, siapa pun harus melepaskan alas kaki di depan pintu gerbang, dan harus berjalan di dalam pesantren–baik di halaman maupun di kelas–tanpa alas kaki. Sebab mereka sangat memuliakan pesantren yang merupakan tempat untuk menuntut ilmu. Sehingga suatu hal yang dipandang melanggar adab atas ilmu, apabila menginjakkan kaki dengan alas kaki di wilayah madrasah yang merupakan tempat menuntut ilmu.

 

Biografi Singkat Kiai Uzairon

 

Kiai H. Uzairon Thaifur Abdillah lahir di Magetan, Jawa Timur. Kiai Uzairon adalah putra Kiai Mahmud yang merupakan Pimpinan Pondok Pesantren al-Fatah Temboro sebelum Kiai Uzairon.

 

Silsilah keluarga Kiai Uzairon–keluarga Pimpinan Pesantren al-Fatah Temboro–sampai kepada Nabi Muhammad saw, melalui garis silsilah Sunan Ampel: 1) Kiai Uzairon Thaifur Abdillah, 2) Kiai Mahmud Kholid, 3) Kiai Siddiq, 4) Kiai Hasan Munawwar, 5) Mbah Karyo, 6) Mbah Sonto Golo, 7) Jaksa Magetan, 8) Raden Adipati Nerang Kusuma, 9) R. Siddiq/Pangeran Adipati Anom Kertakusuma, 10) Raden Galundung/Pangeran Agung Kertakusuma, 11) Pangeran Wonotirta, 12) Pangeran Jaya Sampurna, 13) Raden Arif/Panembahan Kali, 14) Sayyid Hasyim/Sunan Drajat, 15) Sayyid Ali Rahmatullah/Sunan Ampel, 16) Sayyid Ibrahim, 17) Sayyid Jamaludin Husain, 18) Sayyid Ahmad, 19) Sayyid Abdullah Adzmah Khan, 20) Sayyid Abdul Malik, 21) Sayyid Alawi, 22) Sayyid Muhammad Shahibul Mirbath, 23) Sayyid Ali Khali’ Qasam, 24) Sayyid Alawi, 25) Sayyid Abdullah, 26) Sayyid Ahmad Muhajir, 27) Sayyid Isa, 28) Sayyid Muhammad, 29) Sayyid Ali al-Uraidzi, 30) Sayyid Jafar as-Shahdiq, 31) Sayyid Muhammad al-Baqir, 32) Sayyidina Ali Zainal Abidin, 33) Sayyidina Husain bin Ali ra, 34) Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra dan Sayyidah Fatimah r.ha, 35) Sayyidina Nabi Muhammad saw (Sumber: Catatan yang diberikan Ust. Tantawi–ipar Kiai Uzairan).

 

Kiai Uzairon Thaifur Abdillah meninggal pada Senin 21 Juli 2014, bertepatan 23 Ramadhan 1435 H, saat usianya 51 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Keluarga Kiai al-Fatah Temboro, tepat di belakang Masjid Pondok Pusat al-Fatah Temboro. Kuburan beliau selalu ramai dikunjungi para peziarah setiap harinya.

 

Riwayat Pendidikan dan Pemikiran Kiai Uzairon

 

Kiai Uzairon sudah mendapatkan pendidikan agama Islam sejak kecil, terutama dari ayahnya–Kiai Khalid Umar Mahmud. Beliau pertama belajar di Pesantren al-Fatah Temboro. Kemudian belajar pada Kiai Hamid Pasuruan di Pesantren Salafiyah Pasuruan.

 

Kiai Uzairon menempuh pendidikan S1-nya di al-Azhar, Mesir. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Ummul Quro’, Makkah (narasumber yang saya wawancarai kurang tahu pasti di Makkah beliau melanjutkan S2 atau hanya sekadar ikut pengajian pada para ulama). Di Makkah, Kiai Uzairon belajar pada Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani, dan juga belajar pada Syekh Yasin al-Fadani.

 

                          kyai mahmud mangajar ngaji santri dan masyarakat

Kiai Uzairon juga belajar pada Maulana In’amul Hasan al-Kandahlawi–seorang ulama dari India yang pernah menjadi Pemimpin Jamaah Tablig dunia. Dari Maulana In’amul Hasan ini lah Kiai Uzairon belajar bagaimana dakwah Jamaah Tablig. Selain itu, mungkin masih banyak lagi ulama-ulama besar Nusantara dan luar Nusantara yang menjadi guru Kiai Uzairon.

 

                            masyarakat sowan kepada kyai mahmud

 

Pemikiran keislaman Kiai Uzairon adalah dalam fikih Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tasawuf Naqsabandiyah Khalidiyah. Pemikiran ini sudah melekat pada beliau sejak kecil, mengingat Pesantren al-Fatah Temboro adalah pesantren Aswaja dengan fikih Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah. Selain itu, Kiai Uzairon juga merupakan Kiai Nusantara yang memiliki pemikiran tabligiyah (dakwah Jamaah Tablig) dalam melakukan gerakan dakwah Islam.

 

Di Pesantren al-Fatah, Kiai Uzairon biasa memberi pengajian tafsir Jalalain untuk para santri dan ustadz Temboro. Pengajian tafsir al-Munir khusus untuk para ustadz Temboro. Juga biasa memberi pengajian tasawuf dengan kitab al-Hikam Ibnu Atha’ilah, kitab Ihya Imam al-Ghazali, dan kitab Mujarobat. Memberi pengajian akidah dengan kitab Dasuqi. Serta beliau juga biasa memberi pengajian kitab Bukhari di Pesantren.

 

Kiai Uzairon termasuk ulama Nusantara yang sangat semangat meng-counter paham-paham yang tak sejalan dengan paham Aswaja. Hal ini terlihat, di mana beliau sendiri yang mengajarkan kitab as-Sunnah wa al-bid’ah pada para santri. Dalam pelajaran ini, beliau menjelaskan tentang ibadah dan akidah yang tak sejalan dengan paham Aswaja, agar para santri saat di masyarakat bisa memahami mana paham yang sejalan dengan Aswaja dan mana yang tidak.

 

Salah satu teladan dari Kiai Uzairon adalah, walau pun beliau Kiai dari Pesantren besar, namun beliau tetap selalu semangat belajar dan mengulangi pelajaran. Bahkan beliau sering tertidur di perpustakaannya, karena biasa membaca hingga larut malam. Beliau juga selalu mengulang materi pelajaran yang akan disampaikan di kelas untuk para santri. Semangat belajar beliau tak pernah luntur, sekali pun sudah menjadi Kiai dari Pesantren besar di Nusantara.

 

Kiai Uzairon dan Gerakan Jamaah Tablig

 

Jamaah Tablig adalah sebutan untuk jamaah yang melakukan dakwah dari masjid ke masjid, pintu ke pintu, dan secara tatap muka. Dasar pemikiran mereka adalah menyampaikan dakwah Islam ke semua orang, dengan mengikuti amalan sesuai sunnah Rasulullah saw dan para sahabat. Dan metode yang mereka tempuh adalah berkelana dari satu negara ke negara lain, dari satu masjid ke masjid lain. Dengan waktu kelana adalah 4 bulan seumur hidup, 40 hari tiap tahun, dan 3 hari tiap bulan.

 

Gerakan dakwah Jamaah Tablig pertama kali dibentuk di India oleh Syekh Muhammad Ilyas al-Kandahlawi pada tahun 1923. Syekh Muhammad Ilyas merupakan ulama asal Kandahlah, sebuah desa di Uttar Pradesh, India. Pusat Jamaah Tablig berada di Nizamuddin, New Delhi. Sekarang Jamaah Tablig tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

 

Dakwah yang disampaikan kelompok ini adalah mengenai fadha’il (perbuatan-perbuatan baik). Dalam aktivitasnya mereka selalu merujuk kitab-kitab yang menjelaskan keutamaan berbuat baik, seperti kitab Riyadh ash-Shalihin karya Imam Nawawi, Hayat ash-Shahabat karya Syekh Yusuf al-Kandahlawi, dan kitab lainnya. Jamaah Tablig juga sering membaca kitab Fadhilah Amal karya Syekh Muhammad Zakariyah al-Kandahlawi, kitab ini seakan menjadi kitab induk yang dibaca saat mereka melakukan gerakan dakwah, baik saat berkelana maupun saat di kampung halaman.

 

Awal Kiai Uzairon Thaifur Abdillah mengenal Jamaah Tablig, adalah saat beliau berangkat ke Ummul Quro’, beliau sempat singgah di Pakistan. Saat singgah di Pakistan, beliau diajak oleh beberapa orang Jamaah Tablig di Pakistan ke Masjid Maki Karaci (Masjid Maki merupakan pusat Jamaah Tablig di Pakistan). Dari sini lah awal beliau mulai mengenal gerakan dakwah Jamaah Tablig.

 

Di waktu yang hampir bersamaan, pada tahun 1983, Temboro kedatangan rombongan Jamaah Tablig dari Pakistan. Sebelum kedatangan Jamaah Tablig dari Pakistan, Kiai Khalid Umar Mahmud–ayahnya Kiai Uzairon–konon bermimpi mendengar suara azan dari India.

 

Kedatangan Jamaah Tablig Pakistan di Temboro disambut baik oleh Kiai Mahmud yang merupakan pimpinan Pesantren al-Fatah Temboro waktu itu. Sebab ada kesan tersendiri yang dirasa oleh Kiai Mahmud pada gerakan Jamaah Tablig. Bahkan saat mendengar ada rombongan yang katanya sedang tablig, Kiai Mahmud sampai berkata (kurang lebihnya), “Ini rombongan wali, di zaman sekarang ini siapa lagi yang mau melakukan tablig kalau bukan wali.” Pihak pesantren al-Fatah Temboro pun mulai mempelajari bagaimana gerakan dakwah Jamaah Tablig. Hingga kemudian mulai mengikutinya.

                        Kyai gus Ubaidillah saat masih belia yang warna hijau

 

Saat Kiai Uzairon kembali ke Indonesia, beliau yang sudah akrab dengan Jamaah Tablig pun mulai memprogram santri-santri al-Fatah Temboro untuk dakwah Jamaah Tablig. Di Indonesia, Kiai Uzairon sudah pernah kelana Jamaah Tablig ke Aceh, NTT, Papua, bahkan menurut Ustadz Tantawi bahwa seluruh provinsi di Indonesia sudah pernah beliau datangi. Dan untuk kelana dakwah Jamaah Tablig ke luar negeri, Kiai Uzairon sudah pernah ke India, Pakistan, Bangladesh, Thailand, Malaysia. Kadang, beliau juga ikut membawa istrinya kelana dakwah Jamaah Tablig ke Malaysia dan Thailand (kelana dakwah Jamaah Tablig bersama istri disebut dakwah masturoh).

 

Sebelum aktif dalam dakwah Jamaah Tablig di Nusantara, beliau merupakan ulama NU. Namun, saat beliau ikut dalam dakwah Jamaah Tablig membuat sebagian ulama NU mempermasalahkannya, bahkan menuduh Pesantren al-Fatah sudah menjadi pesantren Wahabi. Sehingga membuat Kiai Uzairon pun mengundurkan diri dari jabatannya di Rais Syuriyah NU Magetan.

                         kamar mandi terbuka di pondok pusat

 

Menurut Kiai Imdad Nacisin–salah satu pengasuh Pesantren al-Fatah–bahwa, “Kiai Uzairon tidak mau berkonflik, daripada bikin suasana kurang nyaman, dia memilih mundur dari NU secara struktural.” Selain itu, menurut Kiai Uzairon bahwa cara dakwah Jamaah Tablig cocok dengan ajaran Islam Aswaja yang beliau pelajari. Menurutnya bahwa Tablig bukan organisasi dan bukan juga yayasan, tapi adalah sebuah amalan.

 

Kiai Uzairon keluar dari NU secara struktural, namun bukan kultural. Sebab walau bukan lagi berada dalam pengurus NU, Kiai Uzairon tetap mendakwahkan Islam yang sejalan dengan Aswaja an-Nahdiyah, hanya saja beliau menggunakan metode dakwah Jamaah Tablig. Pesantren al-Fatah Temboro pun, masih tetap sebagai pesantren dengan amaliyah-amaliyah Islam Nusantara, yang ber-madzhab Syafi’iyah dalam fikih, Asy’ariyah dalam akidah, dan Naqsabandiyah Khalidiyah dalam tasawuf. Namun, yang beda adalah al-Fatah Temboro menambahkan metode dakwah Tabligiyah dalam gerakan dakwahnya.

                        bangunan baru di daerah trangkil 2003

 

 

Awal program Jamaah Tablig di Temboro, sekitar tahun 1986, baru diikuti oleh santri-santri pesantren al-Fatah Temboro. Kemudian seiring usaha yang dilakukan Kiai Uzairon, beserta Kiai al-Fatah dan santri-santri, sehingga pada 1988 masyarakat Temboro pun ikut bergabung dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig.

 

Hingga Temboro pun menjadi desa santri yang hampir seluruh masyarakat Temboro adalah santri Kiai Uzairon–kalau bukan sebagai santri yang ikut dakwah Jamaah Tablig, maka sebagai santri tarekat, atau sebagai santri yang mondok di al-Fatah.

 

 

Dan pada tahun 1996 (10 tahun setelah Kiai Uzairon ikut Jamaah Tablig), beliau ditunjuk sebagai salah satu penanggung jawab Jamaah Tablig Indonesia. Hal ini membuat Kiai Uzairon menjadi salah satu ulama panutan seluruh Jamaah Tablig Nusantara.

 

Pengaruh Kiai Uzairon pada gerakan dakwah Jamaah Tablig di Nusantara pastilah sangat besar. Ribuan santri yang beliau didik di Pesantren al-Fatah Temboro, menjadi ulama penggerak Jamaah Tablig di seluruh Nusantara. Biasanya alumni-alumni Temboro, dipercayakan sebagai ustadz yang memberikan penjelasan (mudzakara) pada para Jamaah Tablig umum, yang kebanyakan dari kalangan masyarakat biasa yang masih awam dalam ajaran Islam.

 

Selain itu, menurut penulis, sebab Jamaah Tablig di Nusantara hari ini termasuk kelompok yang memiliki amaliyah layaknya NU termasuk amaliyah Islam Nusantara, itu tak lepas dari pengaruh ajaran Pesantren al-Fatah termasuk dari peran Kiai Uzairon pada para santrinya.

                         bangunan baru di pondok utara desa jungke tahun 2000
                         

 

 

Sebagai ulama yang sangat keras menentang berbagai paham yang bertentangan dengan paham Aswaja, misal wahabi atau salafi di Indonesia, tentu juga mempengaruhi pandangan para santri beliau, sehingga dalam gerakan Jamaah Tablig di Nusantara tak mudah disusupi dengan paham-paham yang bertentangan dengan Aswaja, paham yang menentang amaliyah Islam Nusantara, dan paham yang suka membidahkan atau mengkafirkan.

 

Kiai Uzairon juga sering mengajak Kiai-Kiai Nusantara lainnya untuk lebih mengenal gerakan dakwah Jamaah Tablig. Misalnya Kiai Imam Yahya Lirboyo, yang pernah sama-sama dengan beliau pergi belajar dakwah Jamaah Tablig ke Banglades. Ini tentu membuat gerakan dakwah Jamaah Tablig semakin bisa diterima di kalangan ulama-ulama Nusantara.



 

Dakwah yang dilakukan oleh Kiai Uzairon tidak hanya dalam Jamaah Tablig saja. Namun, juga dalam gerakan lain, misal dakwah pesantren, tarekat, dan lainnya. Ulama yang satu ini benar-benar menerjunkan dirinya dalam jalan dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam yang rahmat bagi seluruh alam.

 

Penulis : Andy Sugar alumumni santri al-fatah tahun 2000


  Sejarah pondok pesantren alfatah temboro   Al-Fatah Temboro adalah salah satu Pondok Pesantren besar di Nusantara yang memiliki ribuan...