Sejarah pondok pesantren
alfatah temboro
Al-Fatah Temboro adalah salah satu Pondok Pesantren besar di
Nusantara yang memiliki ribuan santri dan ratusan cabang yang tersebar baik di
dalam maupun luar negeri. Salah satu nama yang pernah memimpin pesantren besar
ini adalah Kiai Uzairon Thaifur Abdillah (sekarang Pesantren al-Fatah Temboro
dipimpin oleh Kiai Ubaidillah Ahror, adiknya Kiai Uzairon).
Plang papan pondok pesantren masih sederhana 1986
Kiai Uzairon termasuk ulama yang tak berpolitik. Beliau awalnya
aktif dalam struktur NU khususnya wilayah Magetan, sebelum akhirnya
mengundurkan diri dan ikut dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig. Pengaruh dan
kontribusinya dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig sangatlah besar, terutama
dalam membuat Jamaah Tablig bisa diterima di kalangan ulama-ulama Nusantara.
Menurut M. Kholid Syeirazi dalam tulisannya “Jamaah Tablig:
‘Salafi’ van India” yang dimuat di www.nu.or.id, bahwa Jamaah Tablig memiliki
amaliyah layaknya NU. Pendapat Syeirazi dalam tulisannya ada benarnya, sebab
para Jamaah Tablig di Indonesia adalah muslim yang suka salawatan, tahlilan,
yasinan, dan umumnya tidak menolak amaliyah Islam Nusantara bahkan justru
mengamalkannya. Hal ini tak lepas dari peran al-Fatah Temboro, yang merupakan
pesantren pencetak ulama-ulama Jamaah Tablig.
Kiai Uzairan yang awalnya merupakan ulama NU, setelah ikut dakwah
Jamaah Tablig tak meninggalkan amaliyah NU. Namun, tetap menghidupkannya,
sehingga hal ini mempengaruhi para Jamaah Tablig yang kemudiaan mengamalkan
amaliyah layaknya NU.
Mengenal Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro
Pondok Pesantren al-Fatah Temboro berada di Desa Temboro, Kec.
Karas, Kab. Magetan, Prov. Jawa Timur. Temboro merupakan desa di Magetan yang
memiliki nuansa kehidupan yang Islami, dengan masyarakat yang sangat religius.
Hampir seluruh warga di Desa Temboro merupakan santri Kiai Mahmud atau santri
Kiai Uzairon. Ada yang sebagai santri yang belajar di Pondok, ada sebagai
santri tarekat, dan ada sebagai santri dakwah (belajar pada Kiai saat kelana
dakwah Jamaah Tablig). Ini membuat Desa Temboro terbangun sebagai Desa Santri.
Di Desa Temboro ini lah, Pondok Pesantren al-Fatah dibangun oleh
Kiai Siddiq–kakek Kiai Uzairon–pada tahun 1912 M. Al-Fatah Temboro tercatat
sebagai pesantren tertua di Magetan. Kiai Siddiq yang mendirikan pesantren
al-Fatah Temboro, merupakan salah satu pendiri NU wilayah Magetan dan merupakan
Rais Aam pertama NU Magetan.
Pesantren al-Fatah Temboro termasuk pesantren besar di Nusantara
yang memiliki ribuan santri dalam menuntut ilmu. Pada tahun 2019 tercatat ada
22.450 santri dan guru yang ada di Pesantren al-Fatah Temboro. Santri-santri di
al-Fatah Temboro, tak hanya berasal dari wilayah sekitar Magetan, namun juga
banyak yang berasal dari luar Magetan, luar Jawa, bahkan luar
Indonesia–Malaysia, Thailand, Filipina, Cambodja, Vietnam, Papua Nugini,
Singapura, Tunisia, Selandia Baru, dan Cina. (Sumber: Majalah Elhujjah, edisi
15, Agustus 2019).
Al-Fatah Temboro merupakan pesantren berpaham Aswaja yang dalam
fikih berpaham Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tasawuf Naqsabandiyah
Khalidiyah, serta menganut paham Tabligiyah dalam usaha dakwah Islam. Pesantren
ini mengamalkan berbagai amaliyah Islam Nusantara, misal istighosa berjamaah yang
rutin dilakukan setelah salat tahajud.
Bermain pinpong depan komplek nur muhamad
Warga Pesantren al-Fatah Temboro sangat memuliakan semua yang
berhubungan dengan ilmu agama. Misalnya, saat mau memasuki Pesantren, siapa pun
harus melepaskan alas kaki di depan pintu gerbang, dan harus berjalan di dalam
pesantren–baik di halaman maupun di kelas–tanpa alas kaki. Sebab mereka sangat
memuliakan pesantren yang merupakan tempat untuk menuntut ilmu. Sehingga suatu
hal yang dipandang melanggar adab atas ilmu, apabila menginjakkan kaki dengan
alas kaki di wilayah madrasah yang merupakan tempat menuntut ilmu.
Biografi Singkat Kiai Uzairon
Kiai H. Uzairon Thaifur Abdillah lahir di Magetan, Jawa Timur. Kiai
Uzairon adalah putra Kiai Mahmud yang merupakan Pimpinan Pondok Pesantren
al-Fatah Temboro sebelum Kiai Uzairon.
Silsilah keluarga Kiai Uzairon–keluarga Pimpinan Pesantren al-Fatah
Temboro–sampai kepada Nabi Muhammad saw, melalui garis silsilah Sunan Ampel: 1)
Kiai Uzairon Thaifur Abdillah, 2) Kiai Mahmud Kholid, 3) Kiai Siddiq, 4) Kiai
Hasan Munawwar, 5) Mbah Karyo, 6) Mbah Sonto Golo, 7) Jaksa Magetan, 8) Raden
Adipati Nerang Kusuma, 9) R. Siddiq/Pangeran Adipati Anom Kertakusuma, 10)
Raden Galundung/Pangeran Agung Kertakusuma, 11) Pangeran Wonotirta, 12)
Pangeran Jaya Sampurna, 13) Raden Arif/Panembahan Kali, 14) Sayyid Hasyim/Sunan
Drajat, 15) Sayyid Ali Rahmatullah/Sunan Ampel, 16) Sayyid Ibrahim, 17) Sayyid
Jamaludin Husain, 18) Sayyid Ahmad, 19) Sayyid Abdullah Adzmah Khan, 20) Sayyid
Abdul Malik, 21) Sayyid Alawi, 22) Sayyid Muhammad Shahibul Mirbath, 23) Sayyid
Ali Khali’ Qasam, 24) Sayyid Alawi, 25) Sayyid Abdullah, 26) Sayyid Ahmad
Muhajir, 27) Sayyid Isa, 28) Sayyid Muhammad, 29) Sayyid Ali al-Uraidzi, 30)
Sayyid Jafar as-Shahdiq, 31) Sayyid Muhammad al-Baqir, 32) Sayyidina Ali Zainal
Abidin, 33) Sayyidina Husain bin Ali ra, 34) Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra
dan Sayyidah Fatimah r.ha, 35) Sayyidina Nabi Muhammad saw (Sumber: Catatan
yang diberikan Ust. Tantawi–ipar Kiai Uzairan).
Kiai Uzairon Thaifur Abdillah meninggal pada Senin 21 Juli 2014,
bertepatan 23 Ramadhan 1435 H, saat usianya 51 tahun. Beliau dimakamkan di
pemakaman Keluarga Kiai al-Fatah Temboro, tepat di belakang Masjid Pondok Pusat
al-Fatah Temboro. Kuburan beliau selalu ramai dikunjungi para peziarah setiap
harinya.
Riwayat Pendidikan dan Pemikiran Kiai Uzairon
Kiai Uzairon sudah mendapatkan pendidikan agama Islam sejak kecil,
terutama dari ayahnya–Kiai Khalid Umar Mahmud. Beliau pertama belajar di
Pesantren al-Fatah Temboro. Kemudian belajar pada Kiai Hamid Pasuruan di
Pesantren Salafiyah Pasuruan.
Kiai Uzairon menempuh pendidikan S1-nya di al-Azhar, Mesir. Setelah
itu beliau melanjutkan pendidikan di Ummul Quro’, Makkah (narasumber yang saya
wawancarai kurang tahu pasti di Makkah beliau melanjutkan S2 atau hanya sekadar
ikut pengajian pada para ulama). Di Makkah, Kiai Uzairon belajar pada Sayyid
Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani, dan juga belajar pada Syekh Yasin
al-Fadani.
Kiai Uzairon juga belajar pada Maulana In’amul Hasan
al-Kandahlawi–seorang ulama dari India yang pernah menjadi Pemimpin Jamaah
Tablig dunia. Dari Maulana In’amul Hasan ini lah Kiai Uzairon belajar bagaimana
dakwah Jamaah Tablig. Selain itu, mungkin masih banyak lagi ulama-ulama besar
Nusantara dan luar Nusantara yang menjadi guru Kiai Uzairon.
Pemikiran keislaman Kiai Uzairon adalah dalam fikih Syafi’iyah,
akidah Asy’ariyah, dan tasawuf Naqsabandiyah Khalidiyah. Pemikiran ini sudah
melekat pada beliau sejak kecil, mengingat Pesantren al-Fatah Temboro adalah
pesantren Aswaja dengan fikih Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tarekat Naqsabandiyah
Khalidiyah. Selain itu, Kiai Uzairon juga merupakan Kiai Nusantara yang
memiliki pemikiran tabligiyah (dakwah Jamaah Tablig) dalam melakukan gerakan
dakwah Islam.
Di Pesantren al-Fatah, Kiai Uzairon biasa memberi pengajian tafsir
Jalalain untuk para santri dan ustadz Temboro. Pengajian tafsir al-Munir khusus
untuk para ustadz Temboro. Juga biasa memberi pengajian tasawuf dengan kitab
al-Hikam Ibnu Atha’ilah, kitab Ihya Imam al-Ghazali, dan kitab Mujarobat.
Memberi pengajian akidah dengan kitab Dasuqi. Serta beliau juga biasa memberi
pengajian kitab Bukhari di Pesantren.
Kiai Uzairon termasuk ulama Nusantara yang sangat semangat
meng-counter paham-paham yang tak sejalan dengan paham Aswaja. Hal ini
terlihat, di mana beliau sendiri yang mengajarkan kitab as-Sunnah wa al-bid’ah
pada para santri. Dalam pelajaran ini, beliau menjelaskan tentang ibadah dan
akidah yang tak sejalan dengan paham Aswaja, agar para santri saat di
masyarakat bisa memahami mana paham yang sejalan dengan Aswaja dan mana yang
tidak.
Salah satu teladan dari Kiai Uzairon adalah, walau pun beliau Kiai
dari Pesantren besar, namun beliau tetap selalu semangat belajar dan mengulangi
pelajaran. Bahkan beliau sering tertidur di perpustakaannya, karena biasa
membaca hingga larut malam. Beliau juga selalu mengulang materi pelajaran yang
akan disampaikan di kelas untuk para santri. Semangat belajar beliau tak pernah
luntur, sekali pun sudah menjadi Kiai dari Pesantren besar di Nusantara.
Kiai Uzairon dan Gerakan Jamaah Tablig
Jamaah Tablig adalah sebutan untuk jamaah yang melakukan dakwah
dari masjid ke masjid, pintu ke pintu, dan secara tatap muka. Dasar pemikiran
mereka adalah menyampaikan dakwah Islam ke semua orang, dengan mengikuti amalan
sesuai sunnah Rasulullah saw dan para sahabat. Dan metode yang mereka tempuh
adalah berkelana dari satu negara ke negara lain, dari satu masjid ke masjid
lain. Dengan waktu kelana adalah 4 bulan seumur hidup, 40 hari tiap tahun, dan
3 hari tiap bulan.
Gerakan dakwah Jamaah Tablig pertama kali dibentuk di India oleh
Syekh Muhammad Ilyas al-Kandahlawi pada tahun 1923. Syekh Muhammad Ilyas
merupakan ulama asal Kandahlah, sebuah desa di Uttar Pradesh, India. Pusat
Jamaah Tablig berada di Nizamuddin, New Delhi. Sekarang Jamaah Tablig tersebar
di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Dakwah yang disampaikan kelompok ini adalah mengenai fadha’il
(perbuatan-perbuatan baik). Dalam aktivitasnya mereka selalu merujuk
kitab-kitab yang menjelaskan keutamaan berbuat baik, seperti kitab Riyadh
ash-Shalihin karya Imam Nawawi, Hayat ash-Shahabat karya Syekh Yusuf
al-Kandahlawi, dan kitab lainnya. Jamaah Tablig juga sering membaca kitab
Fadhilah Amal karya Syekh Muhammad Zakariyah al-Kandahlawi, kitab ini seakan
menjadi kitab induk yang dibaca saat mereka melakukan gerakan dakwah, baik saat
berkelana maupun saat di kampung halaman.
Awal Kiai Uzairon Thaifur Abdillah mengenal Jamaah Tablig, adalah
saat beliau berangkat ke Ummul Quro’, beliau sempat singgah di Pakistan. Saat
singgah di Pakistan, beliau diajak oleh beberapa orang Jamaah Tablig di
Pakistan ke Masjid Maki Karaci (Masjid Maki merupakan pusat Jamaah Tablig di
Pakistan). Dari sini lah awal beliau mulai mengenal gerakan dakwah Jamaah
Tablig.
Di waktu yang hampir bersamaan, pada tahun 1983, Temboro kedatangan
rombongan Jamaah Tablig dari Pakistan. Sebelum kedatangan Jamaah Tablig dari
Pakistan, Kiai Khalid Umar Mahmud–ayahnya Kiai Uzairon–konon bermimpi mendengar
suara azan dari India.
Kedatangan Jamaah Tablig Pakistan di Temboro disambut baik oleh
Kiai Mahmud yang merupakan pimpinan Pesantren al-Fatah Temboro waktu itu. Sebab
ada kesan tersendiri yang dirasa oleh Kiai Mahmud pada gerakan Jamaah Tablig.
Bahkan saat mendengar ada rombongan yang katanya sedang tablig, Kiai Mahmud
sampai berkata (kurang lebihnya), “Ini rombongan wali, di zaman sekarang ini
siapa lagi yang mau melakukan tablig kalau bukan wali.” Pihak pesantren
al-Fatah Temboro pun mulai mempelajari bagaimana gerakan dakwah Jamaah Tablig.
Hingga kemudian mulai mengikutinya.
Saat Kiai Uzairon kembali ke Indonesia, beliau yang sudah akrab
dengan Jamaah Tablig pun mulai memprogram santri-santri al-Fatah Temboro untuk
dakwah Jamaah Tablig. Di Indonesia, Kiai Uzairon sudah pernah kelana Jamaah
Tablig ke Aceh, NTT, Papua, bahkan menurut Ustadz Tantawi bahwa seluruh
provinsi di Indonesia sudah pernah beliau datangi. Dan untuk kelana dakwah
Jamaah Tablig ke luar negeri, Kiai Uzairon sudah pernah ke India, Pakistan,
Bangladesh, Thailand, Malaysia. Kadang, beliau juga ikut membawa istrinya
kelana dakwah Jamaah Tablig ke Malaysia dan Thailand (kelana dakwah Jamaah
Tablig bersama istri disebut dakwah masturoh).
Sebelum aktif dalam dakwah Jamaah Tablig di Nusantara, beliau
merupakan ulama NU. Namun, saat beliau ikut dalam dakwah Jamaah Tablig membuat
sebagian ulama NU mempermasalahkannya, bahkan menuduh Pesantren al-Fatah sudah
menjadi pesantren Wahabi. Sehingga membuat Kiai Uzairon pun mengundurkan diri
dari jabatannya di Rais Syuriyah NU Magetan.
Menurut Kiai Imdad Nacisin–salah satu pengasuh Pesantren
al-Fatah–bahwa, “Kiai Uzairon tidak mau berkonflik, daripada bikin suasana
kurang nyaman, dia memilih mundur dari NU secara struktural.” Selain itu,
menurut Kiai Uzairon bahwa cara dakwah Jamaah Tablig cocok dengan ajaran Islam
Aswaja yang beliau pelajari. Menurutnya bahwa Tablig bukan organisasi dan bukan
juga yayasan, tapi adalah sebuah amalan.
Kiai Uzairon keluar dari NU secara struktural, namun bukan
kultural. Sebab walau bukan lagi berada dalam pengurus NU, Kiai Uzairon tetap
mendakwahkan Islam yang sejalan dengan Aswaja an-Nahdiyah, hanya saja beliau
menggunakan metode dakwah Jamaah Tablig. Pesantren al-Fatah Temboro pun, masih
tetap sebagai pesantren dengan amaliyah-amaliyah Islam Nusantara, yang
ber-madzhab Syafi’iyah dalam fikih, Asy’ariyah dalam akidah, dan Naqsabandiyah
Khalidiyah dalam tasawuf. Namun, yang beda adalah al-Fatah Temboro menambahkan
metode dakwah Tabligiyah dalam gerakan dakwahnya.
Awal program Jamaah Tablig di Temboro, sekitar tahun 1986, baru
diikuti oleh santri-santri pesantren al-Fatah Temboro. Kemudian seiring usaha
yang dilakukan Kiai Uzairon, beserta Kiai al-Fatah dan santri-santri, sehingga
pada 1988 masyarakat Temboro pun ikut bergabung dalam gerakan dakwah Jamaah
Tablig.
Hingga Temboro pun menjadi desa santri yang hampir seluruh
masyarakat Temboro adalah santri Kiai Uzairon–kalau bukan sebagai santri yang
ikut dakwah Jamaah Tablig, maka sebagai santri tarekat, atau sebagai santri
yang mondok di al-Fatah.
Dan pada tahun 1996 (10 tahun setelah Kiai Uzairon ikut Jamaah
Tablig), beliau ditunjuk sebagai salah satu penanggung jawab Jamaah Tablig
Indonesia. Hal ini membuat Kiai Uzairon menjadi salah satu ulama panutan
seluruh Jamaah Tablig Nusantara.
Pengaruh Kiai Uzairon pada gerakan dakwah Jamaah Tablig di
Nusantara pastilah sangat besar. Ribuan santri yang beliau didik di Pesantren
al-Fatah Temboro, menjadi ulama penggerak Jamaah Tablig di seluruh Nusantara.
Biasanya alumni-alumni Temboro, dipercayakan sebagai ustadz yang memberikan
penjelasan (mudzakara) pada para Jamaah Tablig umum, yang kebanyakan dari
kalangan masyarakat biasa yang masih awam dalam ajaran Islam.
Selain itu, menurut penulis, sebab Jamaah Tablig di Nusantara hari
ini termasuk kelompok yang memiliki amaliyah layaknya NU termasuk amaliyah
Islam Nusantara, itu tak lepas dari pengaruh ajaran Pesantren al-Fatah termasuk
dari peran Kiai Uzairon pada para santrinya.
Sebagai ulama yang sangat keras menentang berbagai paham yang
bertentangan dengan paham Aswaja, misal wahabi atau salafi di Indonesia, tentu
juga mempengaruhi pandangan para santri beliau, sehingga dalam gerakan Jamaah
Tablig di Nusantara tak mudah disusupi dengan paham-paham yang bertentangan
dengan Aswaja, paham yang menentang amaliyah Islam Nusantara, dan paham yang
suka membidahkan atau mengkafirkan.
Kiai Uzairon juga sering mengajak Kiai-Kiai Nusantara lainnya untuk
lebih mengenal gerakan dakwah Jamaah Tablig. Misalnya Kiai Imam Yahya Lirboyo,
yang pernah sama-sama dengan beliau pergi belajar dakwah Jamaah Tablig ke
Banglades. Ini tentu membuat gerakan dakwah Jamaah Tablig semakin bisa diterima
di kalangan ulama-ulama Nusantara.
Dakwah yang dilakukan oleh Kiai Uzairon tidak hanya dalam Jamaah
Tablig saja. Namun, juga dalam gerakan lain, misal dakwah pesantren, tarekat,
dan lainnya. Ulama yang satu ini benar-benar menerjunkan dirinya dalam jalan
dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam yang rahmat bagi seluruh alam.
Penulis : Andy Sugar alumumni santri al-fatah tahun 2000