Kamis, 10 Februari 2022

 


Sejarah pondok pesantren alfatah temboro

 

Al-Fatah Temboro adalah salah satu Pondok Pesantren besar di Nusantara yang memiliki ribuan santri dan ratusan cabang yang tersebar baik di dalam maupun luar negeri. Salah satu nama yang pernah memimpin pesantren besar ini adalah Kiai Uzairon Thaifur Abdillah (sekarang Pesantren al-Fatah Temboro dipimpin oleh Kiai Ubaidillah Ahror, adiknya Kiai Uzairon).


Plang papan pondok pesantren masih sederhana 1986

 

 

Kiai Uzairon termasuk ulama yang tak berpolitik. Beliau awalnya aktif dalam struktur NU khususnya wilayah Magetan, sebelum akhirnya mengundurkan diri dan ikut dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig. Pengaruh dan kontribusinya dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig sangatlah besar, terutama dalam membuat Jamaah Tablig bisa diterima di kalangan ulama-ulama Nusantara.

Kyai siddiq, kyai mahmud kholid, kyai gus Uzairon, kyai gus fatah, Kyai gus Ubaid, Gus yusuf, Gus Ahmad, Gus Mahmud


 

Menurut M. Kholid Syeirazi dalam tulisannya “Jamaah Tablig: ‘Salafi’ van India” yang dimuat di www.nu.or.id, bahwa Jamaah Tablig memiliki amaliyah layaknya NU. Pendapat Syeirazi dalam tulisannya ada benarnya, sebab para Jamaah Tablig di Indonesia adalah muslim yang suka salawatan, tahlilan, yasinan, dan umumnya tidak menolak amaliyah Islam Nusantara bahkan justru mengamalkannya. Hal ini tak lepas dari peran al-Fatah Temboro, yang merupakan pesantren pencetak ulama-ulama Jamaah Tablig.

 

                                plang 1986

Kiai Uzairan yang awalnya merupakan ulama NU, setelah ikut dakwah Jamaah Tablig tak meninggalkan amaliyah NU. Namun, tetap menghidupkannya, sehingga hal ini mempengaruhi para Jamaah Tablig yang kemudiaan mengamalkan amaliyah layaknya NU.

                               kegiatan pramuka didepan asrama syafii

 

Mengenal Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro

 

Pondok Pesantren al-Fatah Temboro berada di Desa Temboro, Kec. Karas, Kab. Magetan, Prov. Jawa Timur. Temboro merupakan desa di Magetan yang memiliki nuansa kehidupan yang Islami, dengan masyarakat yang sangat religius. Hampir seluruh warga di Desa Temboro merupakan santri Kiai Mahmud atau santri Kiai Uzairon. Ada yang sebagai santri yang belajar di Pondok, ada sebagai santri tarekat, dan ada sebagai santri dakwah (belajar pada Kiai saat kelana dakwah Jamaah Tablig). Ini membuat Desa Temboro terbangun sebagai Desa Santri. 

                                                      Kyai gus Uzairon masih muda
 


Di Desa Temboro ini lah, Pondok Pesantren al-Fatah dibangun oleh Kiai Siddiq–kakek Kiai Uzairon–pada tahun 1912 M. Al-Fatah Temboro tercatat sebagai pesantren tertua di Magetan. Kiai Siddiq yang mendirikan pesantren al-Fatah Temboro, merupakan salah satu pendiri NU wilayah Magetan dan merupakan Rais Aam pertama NU Magetan.

 

Pesantren al-Fatah Temboro termasuk pesantren besar di Nusantara yang memiliki ribuan santri dalam menuntut ilmu. Pada tahun 2019 tercatat ada 22.450 santri dan guru yang ada di Pesantren al-Fatah Temboro. Santri-santri di al-Fatah Temboro, tak hanya berasal dari wilayah sekitar Magetan, namun juga banyak yang berasal dari luar Magetan, luar Jawa, bahkan luar Indonesia–Malaysia, Thailand, Filipina, Cambodja, Vietnam, Papua Nugini, Singapura, Tunisia, Selandia Baru, dan Cina. (Sumber: Majalah Elhujjah, edisi 15, Agustus 2019).

                            sebelah kanan aula abu bakar sebelah kiri depan komple syarif hidayatullah


Al-Fatah Temboro merupakan pesantren berpaham Aswaja yang dalam fikih berpaham Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tasawuf Naqsabandiyah Khalidiyah, serta menganut paham Tabligiyah dalam usaha dakwah Islam. Pesantren ini mengamalkan berbagai amaliyah Islam Nusantara, misal istighosa berjamaah yang rutin dilakukan setelah salat tahajud. 

                           Bermain pinpong depan komplek nur muhamad

 

Warga Pesantren al-Fatah Temboro sangat memuliakan semua yang berhubungan dengan ilmu agama. Misalnya, saat mau memasuki Pesantren, siapa pun harus melepaskan alas kaki di depan pintu gerbang, dan harus berjalan di dalam pesantren–baik di halaman maupun di kelas–tanpa alas kaki. Sebab mereka sangat memuliakan pesantren yang merupakan tempat untuk menuntut ilmu. Sehingga suatu hal yang dipandang melanggar adab atas ilmu, apabila menginjakkan kaki dengan alas kaki di wilayah madrasah yang merupakan tempat menuntut ilmu.

 

Biografi Singkat Kiai Uzairon

 

Kiai H. Uzairon Thaifur Abdillah lahir di Magetan, Jawa Timur. Kiai Uzairon adalah putra Kiai Mahmud yang merupakan Pimpinan Pondok Pesantren al-Fatah Temboro sebelum Kiai Uzairon.

 

Silsilah keluarga Kiai Uzairon–keluarga Pimpinan Pesantren al-Fatah Temboro–sampai kepada Nabi Muhammad saw, melalui garis silsilah Sunan Ampel: 1) Kiai Uzairon Thaifur Abdillah, 2) Kiai Mahmud Kholid, 3) Kiai Siddiq, 4) Kiai Hasan Munawwar, 5) Mbah Karyo, 6) Mbah Sonto Golo, 7) Jaksa Magetan, 8) Raden Adipati Nerang Kusuma, 9) R. Siddiq/Pangeran Adipati Anom Kertakusuma, 10) Raden Galundung/Pangeran Agung Kertakusuma, 11) Pangeran Wonotirta, 12) Pangeran Jaya Sampurna, 13) Raden Arif/Panembahan Kali, 14) Sayyid Hasyim/Sunan Drajat, 15) Sayyid Ali Rahmatullah/Sunan Ampel, 16) Sayyid Ibrahim, 17) Sayyid Jamaludin Husain, 18) Sayyid Ahmad, 19) Sayyid Abdullah Adzmah Khan, 20) Sayyid Abdul Malik, 21) Sayyid Alawi, 22) Sayyid Muhammad Shahibul Mirbath, 23) Sayyid Ali Khali’ Qasam, 24) Sayyid Alawi, 25) Sayyid Abdullah, 26) Sayyid Ahmad Muhajir, 27) Sayyid Isa, 28) Sayyid Muhammad, 29) Sayyid Ali al-Uraidzi, 30) Sayyid Jafar as-Shahdiq, 31) Sayyid Muhammad al-Baqir, 32) Sayyidina Ali Zainal Abidin, 33) Sayyidina Husain bin Ali ra, 34) Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra dan Sayyidah Fatimah r.ha, 35) Sayyidina Nabi Muhammad saw (Sumber: Catatan yang diberikan Ust. Tantawi–ipar Kiai Uzairan).

 

Kiai Uzairon Thaifur Abdillah meninggal pada Senin 21 Juli 2014, bertepatan 23 Ramadhan 1435 H, saat usianya 51 tahun. Beliau dimakamkan di pemakaman Keluarga Kiai al-Fatah Temboro, tepat di belakang Masjid Pondok Pusat al-Fatah Temboro. Kuburan beliau selalu ramai dikunjungi para peziarah setiap harinya.

 

Riwayat Pendidikan dan Pemikiran Kiai Uzairon

 

Kiai Uzairon sudah mendapatkan pendidikan agama Islam sejak kecil, terutama dari ayahnya–Kiai Khalid Umar Mahmud. Beliau pertama belajar di Pesantren al-Fatah Temboro. Kemudian belajar pada Kiai Hamid Pasuruan di Pesantren Salafiyah Pasuruan.

 

Kiai Uzairon menempuh pendidikan S1-nya di al-Azhar, Mesir. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Ummul Quro’, Makkah (narasumber yang saya wawancarai kurang tahu pasti di Makkah beliau melanjutkan S2 atau hanya sekadar ikut pengajian pada para ulama). Di Makkah, Kiai Uzairon belajar pada Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani, dan juga belajar pada Syekh Yasin al-Fadani.

 

                          kyai mahmud mangajar ngaji santri dan masyarakat

Kiai Uzairon juga belajar pada Maulana In’amul Hasan al-Kandahlawi–seorang ulama dari India yang pernah menjadi Pemimpin Jamaah Tablig dunia. Dari Maulana In’amul Hasan ini lah Kiai Uzairon belajar bagaimana dakwah Jamaah Tablig. Selain itu, mungkin masih banyak lagi ulama-ulama besar Nusantara dan luar Nusantara yang menjadi guru Kiai Uzairon.

 

                            masyarakat sowan kepada kyai mahmud

 

Pemikiran keislaman Kiai Uzairon adalah dalam fikih Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tasawuf Naqsabandiyah Khalidiyah. Pemikiran ini sudah melekat pada beliau sejak kecil, mengingat Pesantren al-Fatah Temboro adalah pesantren Aswaja dengan fikih Syafi’iyah, akidah Asy’ariyah, dan tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah. Selain itu, Kiai Uzairon juga merupakan Kiai Nusantara yang memiliki pemikiran tabligiyah (dakwah Jamaah Tablig) dalam melakukan gerakan dakwah Islam.

 

Di Pesantren al-Fatah, Kiai Uzairon biasa memberi pengajian tafsir Jalalain untuk para santri dan ustadz Temboro. Pengajian tafsir al-Munir khusus untuk para ustadz Temboro. Juga biasa memberi pengajian tasawuf dengan kitab al-Hikam Ibnu Atha’ilah, kitab Ihya Imam al-Ghazali, dan kitab Mujarobat. Memberi pengajian akidah dengan kitab Dasuqi. Serta beliau juga biasa memberi pengajian kitab Bukhari di Pesantren.

 

Kiai Uzairon termasuk ulama Nusantara yang sangat semangat meng-counter paham-paham yang tak sejalan dengan paham Aswaja. Hal ini terlihat, di mana beliau sendiri yang mengajarkan kitab as-Sunnah wa al-bid’ah pada para santri. Dalam pelajaran ini, beliau menjelaskan tentang ibadah dan akidah yang tak sejalan dengan paham Aswaja, agar para santri saat di masyarakat bisa memahami mana paham yang sejalan dengan Aswaja dan mana yang tidak.

 

Salah satu teladan dari Kiai Uzairon adalah, walau pun beliau Kiai dari Pesantren besar, namun beliau tetap selalu semangat belajar dan mengulangi pelajaran. Bahkan beliau sering tertidur di perpustakaannya, karena biasa membaca hingga larut malam. Beliau juga selalu mengulang materi pelajaran yang akan disampaikan di kelas untuk para santri. Semangat belajar beliau tak pernah luntur, sekali pun sudah menjadi Kiai dari Pesantren besar di Nusantara.

 

Kiai Uzairon dan Gerakan Jamaah Tablig

 

Jamaah Tablig adalah sebutan untuk jamaah yang melakukan dakwah dari masjid ke masjid, pintu ke pintu, dan secara tatap muka. Dasar pemikiran mereka adalah menyampaikan dakwah Islam ke semua orang, dengan mengikuti amalan sesuai sunnah Rasulullah saw dan para sahabat. Dan metode yang mereka tempuh adalah berkelana dari satu negara ke negara lain, dari satu masjid ke masjid lain. Dengan waktu kelana adalah 4 bulan seumur hidup, 40 hari tiap tahun, dan 3 hari tiap bulan.

 

Gerakan dakwah Jamaah Tablig pertama kali dibentuk di India oleh Syekh Muhammad Ilyas al-Kandahlawi pada tahun 1923. Syekh Muhammad Ilyas merupakan ulama asal Kandahlah, sebuah desa di Uttar Pradesh, India. Pusat Jamaah Tablig berada di Nizamuddin, New Delhi. Sekarang Jamaah Tablig tersebar di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

 

Dakwah yang disampaikan kelompok ini adalah mengenai fadha’il (perbuatan-perbuatan baik). Dalam aktivitasnya mereka selalu merujuk kitab-kitab yang menjelaskan keutamaan berbuat baik, seperti kitab Riyadh ash-Shalihin karya Imam Nawawi, Hayat ash-Shahabat karya Syekh Yusuf al-Kandahlawi, dan kitab lainnya. Jamaah Tablig juga sering membaca kitab Fadhilah Amal karya Syekh Muhammad Zakariyah al-Kandahlawi, kitab ini seakan menjadi kitab induk yang dibaca saat mereka melakukan gerakan dakwah, baik saat berkelana maupun saat di kampung halaman.

 

Awal Kiai Uzairon Thaifur Abdillah mengenal Jamaah Tablig, adalah saat beliau berangkat ke Ummul Quro’, beliau sempat singgah di Pakistan. Saat singgah di Pakistan, beliau diajak oleh beberapa orang Jamaah Tablig di Pakistan ke Masjid Maki Karaci (Masjid Maki merupakan pusat Jamaah Tablig di Pakistan). Dari sini lah awal beliau mulai mengenal gerakan dakwah Jamaah Tablig.

 

Di waktu yang hampir bersamaan, pada tahun 1983, Temboro kedatangan rombongan Jamaah Tablig dari Pakistan. Sebelum kedatangan Jamaah Tablig dari Pakistan, Kiai Khalid Umar Mahmud–ayahnya Kiai Uzairon–konon bermimpi mendengar suara azan dari India.

 

Kedatangan Jamaah Tablig Pakistan di Temboro disambut baik oleh Kiai Mahmud yang merupakan pimpinan Pesantren al-Fatah Temboro waktu itu. Sebab ada kesan tersendiri yang dirasa oleh Kiai Mahmud pada gerakan Jamaah Tablig. Bahkan saat mendengar ada rombongan yang katanya sedang tablig, Kiai Mahmud sampai berkata (kurang lebihnya), “Ini rombongan wali, di zaman sekarang ini siapa lagi yang mau melakukan tablig kalau bukan wali.” Pihak pesantren al-Fatah Temboro pun mulai mempelajari bagaimana gerakan dakwah Jamaah Tablig. Hingga kemudian mulai mengikutinya.

                        Kyai gus Ubaidillah saat masih belia yang warna hijau

 

Saat Kiai Uzairon kembali ke Indonesia, beliau yang sudah akrab dengan Jamaah Tablig pun mulai memprogram santri-santri al-Fatah Temboro untuk dakwah Jamaah Tablig. Di Indonesia, Kiai Uzairon sudah pernah kelana Jamaah Tablig ke Aceh, NTT, Papua, bahkan menurut Ustadz Tantawi bahwa seluruh provinsi di Indonesia sudah pernah beliau datangi. Dan untuk kelana dakwah Jamaah Tablig ke luar negeri, Kiai Uzairon sudah pernah ke India, Pakistan, Bangladesh, Thailand, Malaysia. Kadang, beliau juga ikut membawa istrinya kelana dakwah Jamaah Tablig ke Malaysia dan Thailand (kelana dakwah Jamaah Tablig bersama istri disebut dakwah masturoh).

 

Sebelum aktif dalam dakwah Jamaah Tablig di Nusantara, beliau merupakan ulama NU. Namun, saat beliau ikut dalam dakwah Jamaah Tablig membuat sebagian ulama NU mempermasalahkannya, bahkan menuduh Pesantren al-Fatah sudah menjadi pesantren Wahabi. Sehingga membuat Kiai Uzairon pun mengundurkan diri dari jabatannya di Rais Syuriyah NU Magetan.

                         kamar mandi terbuka di pondok pusat

 

Menurut Kiai Imdad Nacisin–salah satu pengasuh Pesantren al-Fatah–bahwa, “Kiai Uzairon tidak mau berkonflik, daripada bikin suasana kurang nyaman, dia memilih mundur dari NU secara struktural.” Selain itu, menurut Kiai Uzairon bahwa cara dakwah Jamaah Tablig cocok dengan ajaran Islam Aswaja yang beliau pelajari. Menurutnya bahwa Tablig bukan organisasi dan bukan juga yayasan, tapi adalah sebuah amalan.

 

Kiai Uzairon keluar dari NU secara struktural, namun bukan kultural. Sebab walau bukan lagi berada dalam pengurus NU, Kiai Uzairon tetap mendakwahkan Islam yang sejalan dengan Aswaja an-Nahdiyah, hanya saja beliau menggunakan metode dakwah Jamaah Tablig. Pesantren al-Fatah Temboro pun, masih tetap sebagai pesantren dengan amaliyah-amaliyah Islam Nusantara, yang ber-madzhab Syafi’iyah dalam fikih, Asy’ariyah dalam akidah, dan Naqsabandiyah Khalidiyah dalam tasawuf. Namun, yang beda adalah al-Fatah Temboro menambahkan metode dakwah Tabligiyah dalam gerakan dakwahnya.

                        bangunan baru di daerah trangkil 2003

 

 

Awal program Jamaah Tablig di Temboro, sekitar tahun 1986, baru diikuti oleh santri-santri pesantren al-Fatah Temboro. Kemudian seiring usaha yang dilakukan Kiai Uzairon, beserta Kiai al-Fatah dan santri-santri, sehingga pada 1988 masyarakat Temboro pun ikut bergabung dalam gerakan dakwah Jamaah Tablig.

 

Hingga Temboro pun menjadi desa santri yang hampir seluruh masyarakat Temboro adalah santri Kiai Uzairon–kalau bukan sebagai santri yang ikut dakwah Jamaah Tablig, maka sebagai santri tarekat, atau sebagai santri yang mondok di al-Fatah.

 

 

Dan pada tahun 1996 (10 tahun setelah Kiai Uzairon ikut Jamaah Tablig), beliau ditunjuk sebagai salah satu penanggung jawab Jamaah Tablig Indonesia. Hal ini membuat Kiai Uzairon menjadi salah satu ulama panutan seluruh Jamaah Tablig Nusantara.

 

Pengaruh Kiai Uzairon pada gerakan dakwah Jamaah Tablig di Nusantara pastilah sangat besar. Ribuan santri yang beliau didik di Pesantren al-Fatah Temboro, menjadi ulama penggerak Jamaah Tablig di seluruh Nusantara. Biasanya alumni-alumni Temboro, dipercayakan sebagai ustadz yang memberikan penjelasan (mudzakara) pada para Jamaah Tablig umum, yang kebanyakan dari kalangan masyarakat biasa yang masih awam dalam ajaran Islam.

 

Selain itu, menurut penulis, sebab Jamaah Tablig di Nusantara hari ini termasuk kelompok yang memiliki amaliyah layaknya NU termasuk amaliyah Islam Nusantara, itu tak lepas dari pengaruh ajaran Pesantren al-Fatah termasuk dari peran Kiai Uzairon pada para santrinya.

                         bangunan baru di pondok utara desa jungke tahun 2000
                         

 

 

Sebagai ulama yang sangat keras menentang berbagai paham yang bertentangan dengan paham Aswaja, misal wahabi atau salafi di Indonesia, tentu juga mempengaruhi pandangan para santri beliau, sehingga dalam gerakan Jamaah Tablig di Nusantara tak mudah disusupi dengan paham-paham yang bertentangan dengan Aswaja, paham yang menentang amaliyah Islam Nusantara, dan paham yang suka membidahkan atau mengkafirkan.

 

Kiai Uzairon juga sering mengajak Kiai-Kiai Nusantara lainnya untuk lebih mengenal gerakan dakwah Jamaah Tablig. Misalnya Kiai Imam Yahya Lirboyo, yang pernah sama-sama dengan beliau pergi belajar dakwah Jamaah Tablig ke Banglades. Ini tentu membuat gerakan dakwah Jamaah Tablig semakin bisa diterima di kalangan ulama-ulama Nusantara.



 

Dakwah yang dilakukan oleh Kiai Uzairon tidak hanya dalam Jamaah Tablig saja. Namun, juga dalam gerakan lain, misal dakwah pesantren, tarekat, dan lainnya. Ulama yang satu ini benar-benar menerjunkan dirinya dalam jalan dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam yang rahmat bagi seluruh alam.

 

Penulis : Andy Sugar alumumni santri al-fatah tahun 2000


Minggu, 24 Oktober 2021

Kiprah kyai dan santri untuk NKRI

 

Kiprah kyai dan santri untuk NKRI     

Dikutip Harian Kompas, 22 Oktober 2015, Hari Santri Nasional ditetapkan lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Peran penting ulama dan santri tidak terlepas dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan kehadiran para ulama dan santri dalam amal juang jihadnya yang benar-benar menjadikan Islam rahmatan lil alamin. Sejak abad ke-7 Islam masuk ke nusantara Indonesia, dalam berfastabiqul khoirot, berlomba dengan pembawa agama non Islam.

Ternyata mendapatkan sambutan dari mayoritas bangsa Indonesia. Karena ulama dan santri cinta damai, anti penjajah. Indonesia merdeka berkat rahmat allah yang maha kuasa. Hanya karena perjuangan akbar maha karya ulama dan santri, sejak abad ke-7, memperadabkan bangsa Indonesia, menjadikan terlahirnya Negara kesatuan Republik Indonesia, dapat dinikmati oleh seluruh bangsa dengan ke-Bhina Tunggal Ika-nya.[1]

Dimata masyarakat Indonesia, santri di kenal seorang terpelajar dalam bidang agama Islam maka muncullah istilah-istilah tentang santri.  santri adalah bahasa serapan dari bahasa Inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu sun dan three yang artinya tiga matahari. Matahari adalah titik pusat tata surya, seperti kita ketahui matahari adalah sumber energy tanpa batas, matahari pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan. Tiga matahari dalam kata sunthree adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari dipesantren  menjadi seorang santri yang dapat

beriman kepada allah secara bersungguh-sungguh, berpegang teguh kepada aturan Islam. Serta dapat berbuat Ihsan kepada sesama.[2]

            Istilah lain mengatakan santri terdiri dari empat huruf dan dari setiap hurufnya mempunyai makna yang berbeda yaitu dari huruf س bermakna سعل artinya bertanya merujuk ke hadis nabi Muhammad saw ``ilmu adalah gedung dan kuncinya adalah bertanya[3]`` maka tidak terlepas dari bertanya adalah identitasnya santri. selanjutnya huruf ن bermakna  نوا artinya niat, ketika jadi santri niat nya harus lurus niat menuntut ilmu agar sungguh-sungguh menuntut ilmunya. Huruf selanjutnya ت bermakna  المعتصي ترك yaitu meninggalkan ma`siyat agar bisa konsentrasi, tidak terganggu pikiran belajarnya dan mudah memahami pelajaran, maka tinggalkan ma`siyat. Huruf selanjutnya ر bermakna رضاالله terakhir segala upaya dalam pembelajaran santri adalah mencari ridho allah Swt.

            Satu nasehat yang tidak pernah ditinggalkan santri saat belajar adalah, syeikh abdul qodir al-jailani mengatakan`` belajarlah dari mahluk, lalu belajarlah dari sang khaliq, sebagaimana nabi Muhammad saw bersabda

من عمل بما يعلم اورثه الله علم ما لم يعلم

`` siapa yang mengamalkan ilmunya, allah mewariskan ilmu belum pernah ia ketahui sebelumnya``

Artinya belajarlah dengan sungguh-sungguh dengan seorang guru dari mahluk baru kepada al-khaliq, maksudnya agar meraih ilmu laduni, yaitu suatu ilmu yang dikhususkan dalam rahasia qolbu, yang kelak menjadi rahasia batin.[4]

            Inilah yang membedakan antara santri dan pelajar disekolah biasa, santri menenanamkan didalam dirinya patuh dan taat kepada guru dengan sepenuhnya. Agar mendapatkan keberkahan dari gurunya, maka permulaan awal pembelajaran santri harus bisa membaca al-qur`an untuk mudah membaca kitab kitab yang lainya sebagaiamana yang terjadi pada  nabi Muhammad Saw kendati seorang diri yang tidak terpelajar dan buta huruf dalam arti itu. Nabi Muhammad Saw diajarkan al-Quran  langsung dari allah Swt melalui malaikat jibril As.[5]

            Umumnya santri belajarnya di pondok atau asrama yang disiapkan untuk yang mukim namun berbeda dengan pendidikan santri di melayu khususnya di Sumatra barat anak-anak muda dikenalkan di surau untuk belajar agama tapi tanpa bermukim. Namun ini  terjadi pada masa masa abad 17 setelah syeikh burhanudin menyebarkan agama Islam di negeri minangkabau. Di masa syeikh burhanudin lah Islam berkembang pesat di tanah minang dan tak luput juga semangat para pemuda untuk belajar agama Islam oleh syaik burhanudin. saat itu belum mengenal istilah pesantren hanya menggunakan surau untuk belajar agama Islam. Dari surau banyak santri syaikh burhanudin yang tersebar untuk mendakwahkan agama Islam ke seluruh penjuru nusantara.[6]

             ketika selesai masa belajarnya seorang santri di bekali dakwah dan keilmuan untuk mengajak masyarakat taat kepada allah dan rasulnya. Oleh karena itu harus mempunyai sifat sabar, tawadu, tawakkal, qana`ah dan lain sebagainya. Karena sifat inilah mudah ditrima oleh masyarakat nusantara saat itu. Para ulama memberikan kesan terbaik dalam berdakwah kepada masyarakat indonesia[7] begitu juga karena semakin maju perkembangan zaman para ulama perlu menyesuaikan metode dakwah dan cara mengajar santri. Dengan melihat situasi dan kondisi lingkungan masyarakat saat itu, sangat rentan bagi tumbuhnya prilaku agresif dan menyimpang di kalangan remaja. Hampir setiap hari para ulama dan kyai menyaksikan realitas sosial, prilaku menyimpang yang dilakukan remaja tersebut, seperti menurunya tata krama sosial dan etika moral dalam praktikan kehidupan bermasyarakat yang mengarah pada ekses negative, yang pada dasarnya tidak sesuai pada nilai-nilai agama sebagaimana terangkum dalam akhlakul karimah.[8]

            Para ulama sangat memperhatikan budaya masyarakat Indonesia mengedepankan akhlak untuk bisa berbaur dengan masyarakat Indonesia karena ulama mengetahui keutamaan dakwah, mengajari masyarakat untuk berbuat baik, serta menolong orang yang dilanda kesulitan, serta menunaikan hajat keperluan orang lain, serta yang bermanfaat untuk kawanya, bersungguh-sungguh dalam mempermudah kesukaran mereka, memenuhi panggilan mereka, menjenguk orang yang sakit serta membantu untuk mengobatinya. Menolong orang yang didzalimi, menyayangi yang lemah, menyedikitkan kesengsaraan mereka dan berlari dalam memperbaiki keadaan diantara mereka. Kesemuanya ini terdapat dalam hadist hadist nabi muhamad saw serta perkataan sahabat, atau pun tabiin radhiyallahu anhum ajmain [9]

            Kenapa para ulama berbuat demikian, karena didalam dirinya tidak satupun merasa kerugian yang akan diterima oleh seseorang yang dengan jiwa besar. bahkan selalu lebih dahulu membangung hubungan manusiawi, seperti mengucap salam, atau memberi dalam bentuk hal lain. Para ulama memulai membangun hubungan butuh kebesaran jiwa, hati dan pikiran. Karenanya untuk selalu senantiasa memberikan yang terbaik kepada masyarakat Indonesia.[10] Begitu juga para ulama selalu mejaga amalan sunahnya rasulullah saw dari amalan itulah menjadi sebuah karomah yang ada dalam diri ulama, banyak sejarah yang terjadi di nusantara mendapatkan hidayah sebab karomah nya sebagaimana kisahnya sunan bonang saat berhadapan dengan brandal lokajaya (sunan kali jaga) ia menggunakan sifat lembut dan kemampuanya untuk mengubah sebuah aren menjadi emas.

            Sunan bonang pernah berdakwah di daerah Kediri untuk mengenalkan Islam waktu itu penduduknya masih menganut ajaran tantrayana. Banyak tantangan yang dihadapinya. Itulah sebabnya, ia menggunakan salah satu strategi dakwah yang menyesuaikan dengan keadaan masyarakat, salah satunya adalah upacara selamatan.[11]

            Dari manakah karomah para wali dan ulama itu muncul. pastinya dari ke ilmuan agama islam yang mereka pelajari tentunya dari al-qur`an, Hadis dan ilmu pendukung lainya sebagaimana di jelaskan di dalam al-Qur`an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. al-Mujadalah [l58]: 11).

Sedangkan dalil hadistnya adalah

وعن ابي هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الله تعالى قال من عاد لى فقد اذنته بالحرب وما تقرب الي مما افتررضته عليه وما يزال عبدي يتقرب الي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذي يبطش بها ورجله الذي يمشي بها وان سالني اعطيطه ولئن استاذني لاعيذنه (رواه البخاري)  

``dari abu hurairoh r.a katanya : Nabi Muhamad Saw bersabda ``sesungguhnya allah swt berfirman : siapa yang memusuhi waliku, aku umumkan perang padanya. Tidak seoarang pun mendekat kepadaku dengan suatu amalan wajib yang aku senangi dan tidak seorang pun dari hambaku yang mendekat kepadaku dengan amalan sunah sampai aku mencintainya, maka aku aku akan menjadi, pendengaranya untuk mendengar, dan aku akan jadi pandanganya untuk melihat, dan aku akan jadi tanganya yang dipakai untuk memegang dan akupun yang akan jadi kakinya untuk berjalan. Jika dia minta padaku akan aku berikan permintaanya dan jika dia minta perlindungan dariku maka akan aku lindungi dia`` (Hadis riwayat Bukhori)[12]   

            Karena dengan ke ilmuannyalah para ulama, allah swt angkat derajatnya, di hormati oleh manusia, di mulyakan oleh malaikat. Dengan ketekunan, rutin, rajin tegak lurus terhadap asas agama maka muncullah istilah

الا ستقامة خيرمن الف كرامه

Istiqomah lebih baik dari pada seribu karomah

            Sebenarnya menurut al-qur`an sebagian hamba allah itu ada yang dijadikan sebagai wali allah (hamba yang di kasih allah). Sedangkan sebagian lain ada pula yang di jadikan walius syaitan (hamba yang di kasihi syaitan). Yang termasuk dalam golongan wali allah adalah mereka yang  bertaqwa dan shalih. Mereka yang menjalankan segala perintah allah dan menjauhi laranganya. Para wali allah telah mengorbankan segala hidupnya hanya untuk mengabdi dan taat kepada allah swt. Pada umumnya tujuan mereka hanya untuk mencapai keridhaan allah semata-mata.

            Mereka rela hidup bagaimanapun keadaanya, asalkan menuju keridhaan allah. Merekapun juga seperti hamba allah yang lain. Para wali itu makan dan minum, kawin, beribadah. Keikhlasan hati dan kemurnian iman yang mereka miliki itulah yang mendapatkan penghargaan sebesar-besarnya dari allah. Untuk itu tidaklah heran jika allah pun memberikan kasih sayang nya pada mereka.[13]

            Jauh sebelum berkembangnya kerajaan Islam di nusantara, Islam sudah ada di masyarakat nusantara sebelum adanya kerajaan-kerajaan Islam. Pada tahun 1404 M. ada salah satu ulama yang di amanahkan oleh sultan muhamad I dari Istanbul Turki untuk berdakwah ke pulau jawa, yaitu maulana muhamad Al-Baqir atau yang dikenal dengan sebutan Syehk Subakir beliau adalah putra dari syehk jamaludin syah jalal atau syekh Jumadil kubro.[14]

            Syekh Subakir adalah ulama yang ternyata ahli ekologi alam atau lingkungan, juga seorang pengusaha ulung, ahli rukyah, ahli nujum, karena itu saat ia mendakwahi pulau jawa banyak gangguan-gangguan yang datangnya dari bangsa jin yang bertempat di gunung tidar, karena ke ilmuanya lah banyak bangsa jin yang menyingkir ke alas saroban bagian barat, laut kidul, dan gunung merapi pada bagian selatan.[15]dengan sebab itulah masyarakat jawa banyak yang mudah menerima agama Islam, walaupun para raja hindu dan budha saat itu masih belum menerima agama Islam. Namun perlu di ketahui bahwasanya yang membawa agama Islam ke nusantara pertama kali bukanlah dari syekh subakir atau wali songo. Di jelaskan dalam buku api sejarah. Pada tahun 670 M Islam sudah masuk kenusantara dengan ditemukanya prasasti batu nisan kuburan seorang ulama bernama syekh mukaiddin di baros tapanuli.

            Jika dihitung dengan tahun Hijriah maka sekitar 48 tahun abad ke satu. Perkiraan setelah 20 tahun masa ke khalifahan Usman bin Affan r.a. yaitu di zaman dinasti umayah dengan pusat pemerintahan di kota damaskus. Kenapa nusantara dizaman itu sudah di datangi agama Islam . karena pada masa khalifah al-Walid I daerah pengaruh umayah I berdekatan dengan cina. Jenderal Qutaibah sebagai gubernur Khurasan, membawahi Bukhara, Samarqand, dan wilayah lainya yang berbatasan dengan cina. Pedagang cina pangsa pasar nya adalah nusantara, sedangkan umat Islam saat itu membangun diplomatik yang baik maka sampailah orang Islam di abad ke 7 di nusantara[16]  

            Tentunya kita bangga menjadi masyarakat muslim Indonesia, panjang sejarah Islam masuk ke Indonesia, banyak perjuangan yang dikorbankan, baik dari harta, jiwa raga, bahkan keluarga, maka patut kita syukuri kita di lahirkan dalam keadaan baik,negerinya aman sentosa gemah ripah loh jinawi.

            Perlu diketahui negara Indonesia terbentuk dengan susah payah, setelah Islam berkembang datang lah ujian selanjutnya yaitu kedatangan imperialisme barat. Pada awalnya, imperialisme barat dilahirkan dari perjanjian tordesilas spanyol, 7 juni 1494 M. suatu perjanjian yang dibuat oleh kerajaan katolik portugis dan katolik spanyol, dipimpin oleh paus Alexander VI, 1492 – 1503 M. dalam perjanjian ini, paus Alexander VI memberikan kewenangan kepada kerajaan katolik poertugis untuk menguasai dunia belahan timur.

            Sebaliknya, kepada keradjaan katolik spanyol diberikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat. Dengan runtuhnya Granada, 1494 M. dari tangan umat Islam ke tangan umat Kristen, menurut jane I. Smith dalam Islam and Christendom, hilanglah toleransi beragama dan kedamaian dalam berniaga. Timbullah penindasan diluar kemanusiaan. Umat Islam di paksa melakukan konversi atau alih agama ke Kristen. Jika tidak mau konversi, harus meninggalkan spanyol, namun tidak dibolehkan membawa putra-putrinya. Umumnya mereka tidak sanggup meninggalkan putra-putrinya, mereka memilih masuk Kristen. Apabila tidak mau dikonversi, di bakar hidup-hidup atau autodafe, selain itu, juga dibangkitkan di seluruh spanyol gerakan anti semitisme. Artinya anti yahudi dan anti Islam. Sedangkan Islam tidak pernah melakukan itu.[17]

            Bisa dilihat sangat berbeda jauh perkembangan agama Islam dan Kristen kala itu jika cara menyebarkanya dengan kekerasan. Dalam Islam ada istilah toleransi bahkan sangat ditekankan, mengingat umat Islam harus menebar kedamaian yang tinggi. Toleransi harus di lakukan dengan ikhlas bukan dengan paksaan. Bahkan di dalam Islam, tidak boleh untuk memaksa orang lain masuk dalam agama Islam, biarkan dia dengan keyakinanya tanpa harus di ganggu, maka allah swt memerintah umat Islam untuk melakukan toleransi, dengan tujuan mampu menebarkan kedamaian dengan orang yang berbeda agama maupun sukunya[18]. Oleh karena itu di negara Indonesia dari sekian banyak suku dan rasnya mampu hidup dengan masyarakat non muslim dengan adanya toleransi di agama Islam.

            Dari manakah pelopor itu bisa di mulai, dari masyarakat santri, mereka membiasakan hidup dipesantren untuk saling mengenal dan berbaur bersama, kehidupan di pesantren banyak santri yang berasal dari berbagai macam suku oleh karena itu ketika keluar dari pesantren maka akan terbentuk masyarakat santri di kampung, kota, bahkan negara sehingga menjadi baldatun thayibah.

            Nur kholis majid meyakini santri merupakan kata cantrik (bahasa sangsekerta atau jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedang versi lainya menganggap santri ``orang baik`` dan kata ``tra`` (suka menolong). Sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Dalam masyarakat yang melek agama tentu keberadaan santri cukup mumpuni menjadi generasi penerus tradisi keagamaan.[19] Dari santri muncullah orang-orang yang benar, pemimpin yang benar, pejabat yang benar , bahkan para ulama seperti KH. Hasyim Asy`ari, KH Ahmad Dahlan, KH. Mas Mansyur, KH A Wahab Hasbullah, Buya Hamka dll. Mereka semua berawal dari santri dan bisa menerapkan ilmunya ke masyarakat.

             Dari para ulama inilah yang mempelopori kebangkitan nasional, munkin jika tidak ada para ulama dan santri bagaimana nasibnya masyarakat Indonesia saat itu, karena bangsa-bangsa asia tenggara tidak henti-hentinya melancarkan perlawanan bersenjata terhadap imperialis barat. Baik terhadap penjajah katolik potugis ataupun spanyol yang datang lebih awal pada abad ke 16 M. disusul kemudian pada abad ke 17 M. oleh penjajah protestan belanda dan inggris.[20]di buatnya masyarakat Indonesia bodoh dalam bidang ke ilmuan. Maka di bentuklah oleh belanda sekolah sekolah yang berbeda yaitu sekolah pribumi, sekolah priayi dan banyak berbagai macam sekolahnya.

            Dari semua itu tujuanya agar bangsa barat tidak ada yang menyaingi dalam bidang apapun, walaupun anak bupati atau anak pejabat tapi yang pribumi tetap di awasi oleh belanda, untungnya lahir lah seorang anak yang dari kalangan priayi namun memikirkan kondisi bangsa Indonesia, ialah presiden soekarno,

            Soekarno merupakan presiden pertama Indonesia yang menjabat periode 1945-1966. Selain nama besarnya sebagai presiden, beliau juga di kenal penyambung lidah rakyat, kedekatannya dengan rakyat tak perlu diragukan lagi dan sudah sepatutnya di contoh oleh pemimpin  di era sekarang. Ia juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam melawan penjajahan belanda. Selain itu Soekarno juga penggagas pancasila dan proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Muhammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.[21]

             Perlu diketahui bahwa soekarno merupakan santri dari haji Oemar Said Cokroaminoto sedangkan Haji Oemar Said Cokroaminoto adalah tokoh pendiri syarikat Islam, ia menyadari bahwa umat Islam di zaman belanda tertindas, di ubah oleh penjajah menjadi seperti tertidur lelap kesadaranya. Tidak lagi menyadari bahwa dirinya memiliki tanah air, bangsa, dan agama yang terjajah. Pasrah tanpa minat untuk melepaskan dirinya dari penindasan yang tiada melelahkan garirah hidupnya. Umat Islam sebagai mayoritas, yang sedang kehilangan seorang pemimpin yang berani membangkitkan kesadaranya bahwa dirinya sedang tertindas dan terjajah.

            Sama halnya dengan bangsa Arab yang terbiarkan menjadi bangsa jahiliah dan terjajah oleh kekaisaran Romawi dan Persia. Tidak lagi memahami siapa yang sebenarnya di jadikan lawan. Dengan demikian, terjadilah serang menyerang antar tetangga, pecah berantakan, dan saling menghancurkan dirinya. Namun setelah rasulullah saw datangdengan ajaran Al-Qur`an yang di jadikan pedoman pembangkit kesadaran manusia, berubahlah dalam waktu relative singkat selama dua puluh tiga tahun.

            Dengan mencontoh kepemimpinan Rasulullah saw. Haji Oemar Said Cokroaminoto berjuang membangkitkan kesadaran nasional umat Islam, bangkit melalui Al-Qur`an dan Sunah[22]. Oleh karena itu peran kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari ulama dan santri. Ketika imperialis barat, keradjaan katolik portugis 1511 M, dan kerajaan protestan belanda, 1619 M. mencoba menguasai Indonesia selalu di hadang oleh ulam dan santri. Sejarawan barat menyebutnya Santri Instrurrection- perlawanan santri. Mengapa tidak di lawan oleh kekuasaan politik budha sriwijaya dan hidnu majapahit. Pada saat kedatangan penjajahan barat keduanya itu sudah tidak ada , akibatnya penjajahan barat berhadapan dengan ulama dan santri serta sultan yang berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa, negara dan agama Islam.

            Mungkinkah proklamasi 17 Agustus 1945, jumat legi, 9 Ramadhan 1364, dapat di tuliskan dan di bacakan oleh proklamator jika tanpa ulama dan santri sebagai pengawal terdepan kemerdekaan Indonesia ? untuk itulah, di depan Monument Nasional, disimbolkan perjuangan ulama dan santri, dengan perjuangan Panggeran Diponegoro yang sedang memacu kuda, sekaligus sebagai lambing dinamika dan monilitas ulama dan santri dalam perjuanganya membebaskan Nusantara Indonesia dari segenap penjajahan.

            Peristiwa sejarah yang terjadi di tengah bangsa Indonesia sampai hari ini, hakikatnya merupakan kesinambungan masa lalu yang telah di letakan dasarnya oleh ulama dan santri, oleh karena itu, Wal Tandur Nafsun ma Qaddamat li ghad – perhatikanlah sejarahmu untuk hari esokmu (QS 59: 18). Semoga allah merahmati, memberkahi, dan menunjukan kita semua.[23]

Kesimpulan

Peran kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari ulama dan santri, santri dan ulama saling terkait, karenanya jika dalam satu negara terdapat pesantren, maka itu ada negara di dalam negara, artinya di dalam pesantren sama kurang lebih struktur keorganisasianya dan sistemnya mirip dengan di pemerintahan. Jauh sebelum negara Indonesia berdiri, pesantren sudah ada lebih dulu. Oleh karena itu sangat penting peran santri dan ulama bagi Indonesia, bayangkan jika tidak ada ulama dan santri, bagaimanakah nasib masyarakat Indonesia saat itu. Mengenyam pendidikan saja dilarang oleh belanda.

 Maka dari santri dan ulama lah yang mencerdaskan masyarakat Indonesia, lahirlah Kh. Hasyim Asy`ari, Kh. Ahmad dahlan, HOS  Cokroaminoto, Sokarno, Agoes Salim dan tokoh-tokoh lainya, perlu patut kita syukuri sebagai masyarakat Indonesia. Banyak keberkahan yang ada di ulama, menurut cerita presiden pertama soekarno sebelum mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia sempat sowan atau minta izin berkahnya dari kh.Hasyim asy`ari. Alhalmdulillah keberkahan itu kita rasakan hingga sekarang.

Jauh sebelum lahirnya Indonesiapun, negara Indonesia sudah di pertahankan oleh ulama dan santri dari penjajahan barat baik belanda, portugis,  ataupun spanyol seperti perjuanganya panggeran diponegoro, kesultanan banten, kesultanan aceh, kesultanan ternate dan tidore, semua kesultanan ini tidak terlepas dari peran santri dan ulama. Maka dengan di tetapkanya hari santri nasional itu merupakan apresiasi  masyarakat Indonesia kepada ulama dan santri.

 

                                                Daftar Pustaka

Ahmad Mansyur Suryanegara, 2020,  api sejarah maha karya perjuangan ulama dan  santri dalam menegakan NKRI jilid 1,  Bandung, Surya dinasti.

Adimitra Nursalim, 2020,  The remarkable story of Soekarno, roemah soekarno.

  Nurul Qomarudin, S.ag, 2018, Megono Magazine media informasi keluarga santri pekalongan, kesip-Bogor,

Ardiansyah, 2017,  Islam itu ramah bukan marah,  Jakarta, Quanta

Siti nur aidah dan Tim penerbit  KBM, 2020, Syekh Subakir sang penakluk kerajaan jin tanah jawa, Jogjakarta,  KBM Indonesia.

Yunus ali muhdar, 2000, kumpulan kisah para wali,  Semarang, PT karya toha.

Muhammad bin alwi al maliki, 2005,  umat akhir zaman,  Jakarta,  iqra kurnia gemilang.

 

Syamsul bahri, metamorfosa kata hati & kehidupan, Jakarta, talenta insane.

 

Asti Usman, 2021, sunan bonang wali keramat, Yogyakarta, Araska.

 

Waitlem s.pd, surau,  Solok Sumatera Barat,  media pustaka.

 

An-Nadhir M.Ishaq Shahab, khuruj fi sabilillah sarana tarbiyah ummat untuk membentuk imaniyah, , Bandung , pustaka ramadhan.

 

Dr.Mukthar,Mpd dan Ratih kusuma inten pamastri, S.Sos, 2003, 60 kiat menjadi remaja millennium panduan berbasis akhlaqul karimah,  Jakarta,  Rakasta Samasta.

 

M.Lukman Hakim. MA, 2010,  menjelang ma`rifat, Bekasi.

 

Muhamad ali zenjibari,  satu sumber dua corak menyingkap islam dan Kristen,  Jakarta, pustaka intermasa.

 

Syeikh salim bin saad nabhan, kumpulan 100  hadist nabi Muhammad saw tentang akhlaq dan budi luhur,  Surabaya, toko kitab.

 

 



[1]  Ahmad Mansyur Suryanegara, Api sejarah maha karya perjuangan ulam dan santri dalam menegakan negara kesatuan republic Indonesia jilid kesatu, Suryadinasti, Bandung, 2020, hlm 3

[2] Nurul Qomarudin, S.ag, Megono Magazine media informasi keluarga santri pekalongan, kesip-Bogor, 2018, hal 09

[3] Syeikh salim bin saad nabhan, kumpulan 100  hadist nabi Muhammad saw tentang akhlaq dan budi luhur,  Surabaya, hlm 4

[4] M.Lukman Hakim. MA, menjelang ma`rifat, Bekasi, 2010, hlm 5

[5] Muhamad ali zenjibari, satu sumber dua corak menyingkap islam dan Kristen, pustaka intermasa, Jakarta, hlm 27

[6] Waitlem s.pd, surau, media pustaka, Solok Sumatera Barat, hlm 5

[7] An-Nadhir M.Ishaq Shahab, khuruj fi sabilillah sarana tarbiyah ummat untuk membentuk imaniyah, pustaka ramadhan, Bandung hlm-19

[8] Dr.Mukthar,Mpd dan Ratih kusuma inten pamastri, S.Sos, 60 kiat menjadi remaja millennium panduan berbasis akhlaqul karimah, Rakasta Samasta, Jakarta, 2003, hlm 3

[9] Muhammad bin alwi al maliki, umat akhir zaman, iqra kurnia gemilang, Jakarta, 2005, hlm 243

[10] Syamsul bahri, metamorfosa kata hati & kehidupan, talenta insane, Jakarta, hlm 38

[11] Asti Usman, sunan bonang wali keramat, Araska, Yogyakarta, 2021, hlm 3&4

[12] Yunus Ali Al-Muhdar, Kumpulan kisah keramat para wali, PT karya toha, Semarang, hlm 14

[13] Yunus ali muhdar, kumpulan kisah para wali, PT karya toha, Semarang, 2000, hlm 13

[14] Siti nur aidah dan Tim penerbit  KBM, Syekh Subakir sang penakluk kerajaan jin tanah jawa. KBM Indonesia, Jogjakarta, 2020, hlm 6  

[15] Siti nur aidah dan Tim penerbit  KBM, Syekh Subakir sang penakluk kerajaan jin tanah jawa. KBM Indonesia, Jogjakarta, 2020, hlm 10

[16] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm-111

[17] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm-158-159

[18] Ardiansyah, Islam itu ramah bukan marah, Quanta, Jakarta, 2017, hlm 10

[19]  Nurul Qomarudin, S.ag, Megono Magazine media informasi keluarga santri pekalongan, kesip-Bogor, 2018, hal 10

[20] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm 181

[21] Adimitra Nursalim, The remarkable story of Soekarno, roemah soekarno, 2020, hlm 3

[22] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm 375

[23] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm xxxii

  Sejarah pondok pesantren alfatah temboro   Al-Fatah Temboro adalah salah satu Pondok Pesantren besar di Nusantara yang memiliki ribuan...