Kiprah kyai dan santri untuk NKRI
Dikutip Harian Kompas, 22 Oktober
2015, Hari Santri Nasional ditetapkan lewat Keputusan Presiden Nomor
22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Peran
penting ulama dan santri tidak terlepas dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dengan kehadiran para ulama dan santri dalam amal juang jihadnya yang
benar-benar menjadikan Islam rahmatan lil alamin. Sejak abad ke-7 Islam
masuk ke nusantara Indonesia, dalam berfastabiqul khoirot, berlomba
dengan pembawa agama non Islam.
Ternyata mendapatkan sambutan dari mayoritas
bangsa Indonesia. Karena ulama dan santri cinta damai, anti penjajah. Indonesia
merdeka berkat rahmat allah yang maha kuasa. Hanya karena perjuangan akbar maha
karya ulama dan santri, sejak abad ke-7, memperadabkan bangsa Indonesia,
menjadikan terlahirnya Negara kesatuan Republik Indonesia, dapat dinikmati oleh
seluruh bangsa dengan ke-Bhina Tunggal Ika-nya.[1]
Dimata masyarakat Indonesia, santri di kenal
seorang terpelajar dalam bidang agama Islam maka muncullah istilah-istilah
tentang santri. santri adalah bahasa
serapan dari bahasa Inggris yang berasal dari dua suku kata yaitu sun
dan three yang artinya tiga matahari. Matahari adalah titik pusat tata
surya, seperti kita ketahui matahari adalah sumber energy tanpa batas, matahari
pula sumber kehidupan bagi seluruh tumbuhan. Tiga matahari dalam kata sunthree
adalah tiga keharusan yang dipunyai oleh seorang santri yaitu Iman, Islam,
dan Ihsan. Semua ilmu tentang Iman, Islam dan Ihsan dipelajari dipesantren menjadi seorang santri yang dapat
beriman kepada allah secara bersungguh-sungguh,
berpegang teguh kepada aturan Islam. Serta dapat berbuat Ihsan kepada sesama.[2]
Istilah
lain mengatakan santri terdiri dari empat huruf dan dari setiap hurufnya
mempunyai makna yang berbeda yaitu dari huruf س bermakna سعل artinya bertanya merujuk ke hadis nabi
Muhammad saw ``ilmu adalah gedung dan kuncinya adalah bertanya[3]``
maka tidak terlepas dari bertanya adalah identitasnya santri. selanjutnya huruf
ن
bermakna نوا artinya niat, ketika
jadi santri niat nya harus lurus niat menuntut ilmu agar sungguh-sungguh
menuntut ilmunya. Huruf selanjutnya ت bermakna المعتصي ترك yaitu meninggalkan ma`siyat agar bisa konsentrasi, tidak
terganggu pikiran belajarnya dan mudah memahami pelajaran, maka tinggalkan
ma`siyat. Huruf selanjutnya ر bermakna رضاالله terakhir segala upaya dalam pembelajaran santri
adalah mencari ridho allah Swt.
Satu
nasehat yang tidak pernah ditinggalkan santri saat belajar adalah, syeikh abdul
qodir al-jailani mengatakan`` belajarlah dari mahluk, lalu belajarlah dari sang
khaliq, sebagaimana nabi Muhammad saw bersabda
من عمل بما يعلم اورثه الله علم ما لم يعلم
`` siapa yang mengamalkan ilmunya, allah
mewariskan ilmu belum pernah ia ketahui sebelumnya``
Artinya belajarlah dengan sungguh-sungguh
dengan seorang guru dari mahluk baru kepada al-khaliq, maksudnya agar meraih
ilmu laduni, yaitu suatu ilmu yang dikhususkan dalam rahasia qolbu, yang kelak
menjadi rahasia batin.[4]
Inilah
yang membedakan antara santri dan pelajar disekolah biasa, santri menenanamkan
didalam dirinya patuh dan taat kepada guru dengan sepenuhnya. Agar mendapatkan
keberkahan dari gurunya, maka permulaan awal pembelajaran santri harus bisa
membaca al-qur`an untuk mudah membaca kitab kitab yang lainya sebagaiamana yang
terjadi pada nabi Muhammad Saw kendati
seorang diri yang tidak terpelajar dan buta huruf dalam arti itu. Nabi Muhammad
Saw diajarkan al-Quran langsung dari
allah Swt melalui malaikat jibril As.[5]
Umumnya
santri belajarnya di pondok atau asrama yang disiapkan untuk yang mukim namun
berbeda dengan pendidikan santri di melayu khususnya di Sumatra barat anak-anak
muda dikenalkan di surau untuk belajar agama tapi tanpa bermukim. Namun ini terjadi pada masa masa abad 17 setelah syeikh
burhanudin menyebarkan agama Islam di negeri minangkabau. Di masa syeikh
burhanudin lah Islam berkembang pesat di tanah minang dan tak luput juga
semangat para pemuda untuk belajar agama Islam oleh syaik burhanudin. saat itu
belum mengenal istilah pesantren hanya menggunakan surau untuk belajar agama
Islam. Dari surau banyak santri syaikh burhanudin yang tersebar untuk
mendakwahkan agama Islam ke seluruh penjuru nusantara.[6]
ketika selesai masa belajarnya seorang santri
di bekali dakwah dan keilmuan untuk mengajak masyarakat taat kepada allah dan
rasulnya. Oleh karena itu harus mempunyai sifat sabar, tawadu, tawakkal,
qana`ah dan lain sebagainya. Karena sifat inilah mudah ditrima oleh masyarakat
nusantara saat itu. Para ulama memberikan kesan terbaik dalam berdakwah kepada
masyarakat indonesia[7]
begitu juga karena semakin maju perkembangan zaman para ulama perlu
menyesuaikan metode dakwah dan cara mengajar santri. Dengan melihat situasi dan
kondisi lingkungan masyarakat saat itu, sangat rentan bagi tumbuhnya prilaku
agresif dan menyimpang di kalangan remaja. Hampir setiap hari para ulama dan
kyai menyaksikan realitas sosial, prilaku menyimpang yang dilakukan remaja
tersebut, seperti menurunya tata krama sosial dan etika moral dalam praktikan
kehidupan bermasyarakat yang mengarah pada ekses negative, yang pada dasarnya
tidak sesuai pada nilai-nilai agama sebagaimana terangkum dalam akhlakul
karimah.[8]
Para
ulama sangat memperhatikan budaya masyarakat Indonesia mengedepankan akhlak
untuk bisa berbaur dengan masyarakat Indonesia karena ulama mengetahui
keutamaan dakwah, mengajari masyarakat untuk berbuat baik, serta menolong orang
yang dilanda kesulitan, serta menunaikan hajat keperluan orang lain, serta yang
bermanfaat untuk kawanya, bersungguh-sungguh dalam mempermudah kesukaran
mereka, memenuhi panggilan mereka, menjenguk orang yang sakit serta membantu
untuk mengobatinya. Menolong orang yang didzalimi, menyayangi yang lemah,
menyedikitkan kesengsaraan mereka dan berlari dalam memperbaiki keadaan
diantara mereka. Kesemuanya ini terdapat dalam hadist hadist nabi muhamad saw
serta perkataan sahabat, atau pun tabiin radhiyallahu anhum ajmain [9]
Kenapa para ulama berbuat demikian, karena
didalam dirinya tidak satupun merasa kerugian yang akan diterima oleh seseorang
yang dengan jiwa besar. bahkan selalu lebih dahulu membangung hubungan
manusiawi, seperti mengucap salam, atau memberi dalam bentuk hal lain. Para
ulama memulai membangun hubungan butuh kebesaran jiwa, hati dan pikiran.
Karenanya untuk selalu senantiasa memberikan yang terbaik kepada masyarakat
Indonesia.[10] Begitu juga para ulama
selalu mejaga amalan sunahnya rasulullah saw dari amalan itulah menjadi sebuah
karomah yang ada dalam diri ulama, banyak sejarah yang terjadi di nusantara
mendapatkan hidayah sebab karomah nya sebagaimana kisahnya sunan bonang saat
berhadapan dengan brandal lokajaya (sunan kali jaga) ia menggunakan sifat
lembut dan kemampuanya untuk mengubah sebuah aren menjadi emas.
Sunan
bonang pernah berdakwah di daerah Kediri untuk mengenalkan Islam waktu itu
penduduknya masih menganut ajaran tantrayana. Banyak tantangan yang
dihadapinya. Itulah sebabnya, ia menggunakan salah satu strategi dakwah yang
menyesuaikan dengan keadaan masyarakat, salah satunya adalah upacara selamatan.[11]
Dari
manakah karomah para wali dan ulama itu muncul. pastinya dari ke ilmuan agama
islam yang mereka pelajari tentunya dari al-qur`an, Hadis dan ilmu pendukung
lainya sebagaimana di jelaskan di dalam al-Qur`an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي
الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا
فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا
الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang yang
beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan (QS. al-Mujadalah [l58]: 11).
Sedangkan dalil
hadistnya adalah
وعن ابي هريرة رضى الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان
الله تعالى قال من عاد لى فقد اذنته بالحرب وما تقرب الي مما افتررضته عليه وما
يزال عبدي يتقرب الي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذي يبطش بها ورجله
الذي يمشي بها وان سالني اعطيطه ولئن استاذني لاعيذنه (رواه البخاري)
``dari abu hurairoh r.a
katanya : Nabi Muhamad Saw bersabda ``sesungguhnya allah swt berfirman : siapa
yang memusuhi waliku, aku umumkan perang padanya. Tidak seoarang pun mendekat
kepadaku dengan suatu amalan wajib yang aku senangi dan tidak seorang pun dari
hambaku yang mendekat kepadaku dengan amalan sunah sampai aku mencintainya,
maka aku aku akan menjadi, pendengaranya untuk mendengar, dan aku akan jadi
pandanganya untuk melihat, dan aku akan jadi tanganya yang dipakai untuk
memegang dan akupun yang akan jadi kakinya untuk berjalan. Jika dia minta
padaku akan aku berikan permintaanya dan jika dia minta perlindungan dariku
maka akan aku lindungi dia`` (Hadis riwayat Bukhori)[12]
Karena
dengan ke ilmuannyalah para ulama, allah swt angkat derajatnya, di hormati oleh
manusia, di mulyakan oleh malaikat. Dengan ketekunan, rutin, rajin tegak lurus
terhadap asas agama maka muncullah istilah
الا ستقامة خيرمن الف كرامه
Istiqomah lebih baik dari pada seribu karomah
Sebenarnya
menurut al-qur`an sebagian hamba allah itu ada yang dijadikan sebagai wali
allah (hamba yang di kasih allah). Sedangkan sebagian lain ada pula yang di
jadikan walius syaitan (hamba yang di kasihi syaitan). Yang termasuk dalam
golongan wali allah adalah mereka yang
bertaqwa dan shalih. Mereka yang menjalankan segala perintah allah dan
menjauhi laranganya. Para wali allah telah mengorbankan segala hidupnya hanya
untuk mengabdi dan taat kepada allah swt. Pada umumnya tujuan mereka hanya
untuk mencapai keridhaan allah semata-mata.
Mereka
rela hidup bagaimanapun keadaanya, asalkan menuju keridhaan allah. Merekapun
juga seperti hamba allah yang lain. Para wali itu makan dan minum, kawin,
beribadah. Keikhlasan hati dan kemurnian iman yang mereka miliki itulah yang
mendapatkan penghargaan sebesar-besarnya dari allah. Untuk itu tidaklah heran
jika allah pun memberikan kasih sayang nya pada mereka.[13]
Jauh sebelum berkembangnya kerajaan Islam di
nusantara, Islam sudah ada di masyarakat nusantara sebelum adanya
kerajaan-kerajaan Islam. Pada tahun 1404 M. ada salah satu ulama yang di
amanahkan oleh sultan muhamad I dari Istanbul Turki untuk berdakwah ke pulau
jawa, yaitu maulana muhamad Al-Baqir atau yang dikenal dengan sebutan Syehk
Subakir beliau adalah putra dari syehk jamaludin syah jalal atau syekh Jumadil
kubro.[14]
Syekh
Subakir adalah ulama yang ternyata ahli ekologi alam atau lingkungan, juga
seorang pengusaha ulung, ahli rukyah, ahli nujum, karena itu saat ia mendakwahi
pulau jawa banyak gangguan-gangguan yang datangnya dari bangsa jin yang
bertempat di gunung tidar, karena ke ilmuanya lah banyak bangsa jin yang
menyingkir ke alas saroban bagian barat, laut kidul, dan gunung merapi pada
bagian selatan.[15]dengan sebab itulah
masyarakat jawa banyak yang mudah menerima agama Islam, walaupun para raja
hindu dan budha saat itu masih belum menerima agama Islam. Namun perlu di
ketahui bahwasanya yang membawa agama Islam ke nusantara pertama kali bukanlah
dari syekh subakir atau wali songo. Di jelaskan dalam buku api sejarah. Pada
tahun 670 M Islam sudah masuk kenusantara dengan ditemukanya prasasti batu
nisan kuburan seorang ulama bernama syekh mukaiddin di baros tapanuli.
Jika
dihitung dengan tahun Hijriah maka sekitar 48 tahun abad ke satu. Perkiraan
setelah 20 tahun masa ke khalifahan Usman bin Affan r.a. yaitu di zaman dinasti
umayah dengan pusat pemerintahan di kota damaskus. Kenapa nusantara dizaman itu
sudah di datangi agama Islam . karena pada masa khalifah al-Walid I daerah
pengaruh umayah I berdekatan dengan cina. Jenderal Qutaibah sebagai gubernur
Khurasan, membawahi Bukhara, Samarqand, dan wilayah lainya yang berbatasan
dengan cina. Pedagang cina pangsa pasar nya adalah nusantara, sedangkan umat
Islam saat itu membangun diplomatik yang baik maka sampailah orang Islam di
abad ke 7 di nusantara[16]
Tentunya
kita bangga menjadi masyarakat muslim Indonesia, panjang sejarah Islam masuk ke
Indonesia, banyak perjuangan yang dikorbankan, baik dari harta, jiwa raga,
bahkan keluarga, maka patut kita syukuri kita di lahirkan dalam keadaan
baik,negerinya aman sentosa gemah ripah loh jinawi.
Perlu
diketahui negara Indonesia terbentuk dengan susah payah, setelah Islam
berkembang datang lah ujian selanjutnya yaitu kedatangan imperialisme barat.
Pada awalnya, imperialisme barat dilahirkan dari perjanjian tordesilas spanyol,
7 juni 1494 M. suatu perjanjian yang dibuat oleh kerajaan katolik portugis dan
katolik spanyol, dipimpin oleh paus Alexander VI, 1492 – 1503 M. dalam
perjanjian ini, paus Alexander VI memberikan kewenangan kepada kerajaan katolik
poertugis untuk menguasai dunia belahan timur.
Sebaliknya,
kepada keradjaan katolik spanyol diberikan kewenangan untuk menguasai dunia
belahan barat. Dengan runtuhnya Granada, 1494 M. dari tangan umat Islam ke
tangan umat Kristen, menurut jane I. Smith dalam Islam and Christendom,
hilanglah toleransi beragama dan kedamaian dalam berniaga. Timbullah penindasan
diluar kemanusiaan. Umat Islam di paksa melakukan konversi atau alih agama ke
Kristen. Jika tidak mau konversi, harus meninggalkan spanyol, namun tidak
dibolehkan membawa putra-putrinya. Umumnya mereka tidak sanggup meninggalkan
putra-putrinya, mereka memilih masuk Kristen. Apabila tidak mau dikonversi, di
bakar hidup-hidup atau autodafe, selain itu, juga dibangkitkan di seluruh
spanyol gerakan anti semitisme. Artinya anti yahudi dan anti Islam. Sedangkan
Islam tidak pernah melakukan itu.[17]
Bisa
dilihat sangat berbeda jauh perkembangan agama Islam dan Kristen kala itu jika
cara menyebarkanya dengan kekerasan. Dalam Islam ada istilah toleransi bahkan
sangat ditekankan, mengingat umat Islam harus menebar kedamaian yang tinggi.
Toleransi harus di lakukan dengan ikhlas bukan dengan paksaan. Bahkan di dalam
Islam, tidak boleh untuk memaksa orang lain masuk dalam agama Islam, biarkan
dia dengan keyakinanya tanpa harus di ganggu, maka allah swt memerintah umat
Islam untuk melakukan toleransi, dengan tujuan mampu menebarkan kedamaian
dengan orang yang berbeda agama maupun sukunya[18].
Oleh karena itu di negara Indonesia dari sekian banyak suku dan rasnya mampu
hidup dengan masyarakat non muslim dengan adanya toleransi di agama Islam.
Dari
manakah pelopor itu bisa di mulai, dari masyarakat santri, mereka membiasakan
hidup dipesantren untuk saling mengenal dan berbaur bersama, kehidupan di
pesantren banyak santri yang berasal dari berbagai macam suku oleh karena itu
ketika keluar dari pesantren maka akan terbentuk masyarakat santri di kampung,
kota, bahkan negara sehingga menjadi baldatun thayibah.
Nur
kholis majid meyakini santri merupakan kata cantrik (bahasa sangsekerta atau
jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Sedang versi lainya
menganggap santri ``orang baik`` dan kata ``tra`` (suka menolong). Sehingga
kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Dalam
masyarakat yang melek agama tentu keberadaan santri cukup mumpuni menjadi
generasi penerus tradisi keagamaan.[19]
Dari santri muncullah orang-orang yang benar, pemimpin yang benar, pejabat yang
benar , bahkan para ulama seperti KH. Hasyim Asy`ari, KH Ahmad Dahlan, KH. Mas
Mansyur, KH A Wahab Hasbullah, Buya Hamka dll. Mereka semua berawal dari santri
dan bisa menerapkan ilmunya ke masyarakat.
Dari para ulama inilah yang mempelopori
kebangkitan nasional, munkin jika tidak ada para ulama dan santri bagaimana
nasibnya masyarakat Indonesia saat itu, karena bangsa-bangsa asia tenggara
tidak henti-hentinya melancarkan perlawanan bersenjata terhadap imperialis
barat. Baik terhadap penjajah katolik potugis ataupun spanyol yang datang lebih
awal pada abad ke 16 M. disusul kemudian pada abad ke 17 M. oleh penjajah
protestan belanda dan inggris.[20]di
buatnya masyarakat Indonesia bodoh dalam bidang ke ilmuan. Maka di bentuklah
oleh belanda sekolah sekolah yang berbeda yaitu sekolah pribumi, sekolah priayi
dan banyak berbagai macam sekolahnya.
Dari
semua itu tujuanya agar bangsa barat tidak ada yang menyaingi dalam bidang
apapun, walaupun anak bupati atau anak pejabat tapi yang pribumi tetap di awasi
oleh belanda, untungnya lahir lah seorang anak yang dari kalangan priayi namun
memikirkan kondisi bangsa Indonesia, ialah presiden soekarno,
Soekarno
merupakan presiden pertama Indonesia yang menjabat periode 1945-1966. Selain
nama besarnya sebagai presiden, beliau juga di kenal penyambung lidah rakyat,
kedekatannya dengan rakyat tak perlu diragukan lagi dan sudah sepatutnya di
contoh oleh pemimpin di era sekarang. Ia
juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam
melawan penjajahan belanda. Selain itu Soekarno juga penggagas pancasila dan
proklamator kemerdekaan Indonesia bersama Muhammad Hatta pada tanggal 17
Agustus 1945.[21]
Perlu diketahui bahwa soekarno merupakan
santri dari haji Oemar Said Cokroaminoto sedangkan Haji Oemar Said Cokroaminoto
adalah tokoh pendiri syarikat Islam, ia menyadari bahwa umat Islam di zaman
belanda tertindas, di ubah oleh penjajah menjadi seperti tertidur lelap
kesadaranya. Tidak lagi menyadari bahwa dirinya memiliki tanah air, bangsa, dan
agama yang terjajah. Pasrah tanpa minat untuk melepaskan dirinya dari
penindasan yang tiada melelahkan garirah hidupnya. Umat Islam sebagai
mayoritas, yang sedang kehilangan seorang pemimpin yang berani membangkitkan kesadaranya
bahwa dirinya sedang tertindas dan terjajah.
Sama
halnya dengan bangsa Arab yang terbiarkan menjadi bangsa jahiliah dan terjajah
oleh kekaisaran Romawi dan Persia. Tidak lagi memahami siapa yang sebenarnya di
jadikan lawan. Dengan demikian, terjadilah serang menyerang antar tetangga,
pecah berantakan, dan saling menghancurkan dirinya. Namun setelah rasulullah
saw datangdengan ajaran Al-Qur`an yang di jadikan pedoman pembangkit kesadaran
manusia, berubahlah dalam waktu relative singkat selama dua puluh tiga tahun.
Dengan
mencontoh kepemimpinan Rasulullah saw. Haji Oemar Said Cokroaminoto berjuang
membangkitkan kesadaran nasional umat Islam, bangkit melalui Al-Qur`an dan
Sunah[22].
Oleh karena itu peran kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari ulama dan
santri. Ketika imperialis barat, keradjaan katolik portugis 1511 M, dan
kerajaan protestan belanda, 1619 M. mencoba menguasai Indonesia selalu di
hadang oleh ulam dan santri. Sejarawan barat menyebutnya Santri Instrurrection-
perlawanan santri. Mengapa tidak di lawan oleh kekuasaan politik budha
sriwijaya dan hidnu majapahit. Pada saat kedatangan penjajahan barat keduanya
itu sudah tidak ada , akibatnya penjajahan barat berhadapan dengan ulama dan
santri serta sultan yang berjuang mempertahankan kedaulatan bangsa, negara dan
agama Islam.
Mungkinkah
proklamasi 17 Agustus 1945, jumat legi, 9 Ramadhan 1364, dapat di tuliskan dan
di bacakan oleh proklamator jika tanpa ulama dan santri sebagai pengawal
terdepan kemerdekaan Indonesia ? untuk itulah, di depan Monument Nasional,
disimbolkan perjuangan ulama dan santri, dengan perjuangan Panggeran Diponegoro
yang sedang memacu kuda, sekaligus sebagai lambing dinamika dan monilitas ulama
dan santri dalam perjuanganya membebaskan Nusantara Indonesia dari segenap
penjajahan.
Peristiwa
sejarah yang terjadi di tengah bangsa Indonesia sampai hari ini, hakikatnya
merupakan kesinambungan masa lalu yang telah di letakan dasarnya oleh ulama dan
santri, oleh karena itu, Wal Tandur Nafsun ma Qaddamat li ghad – perhatikanlah
sejarahmu untuk hari esokmu (QS 59: 18). Semoga allah merahmati, memberkahi,
dan menunjukan kita semua.[23]
Kesimpulan
Peran kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari
ulama dan santri, santri dan ulama saling terkait, karenanya jika dalam satu
negara terdapat pesantren, maka itu ada negara di dalam negara, artinya di
dalam pesantren sama kurang lebih struktur keorganisasianya dan sistemnya mirip
dengan di pemerintahan. Jauh sebelum negara Indonesia berdiri, pesantren sudah
ada lebih dulu. Oleh karena itu sangat penting peran santri dan ulama bagi
Indonesia, bayangkan jika tidak ada ulama dan santri, bagaimanakah nasib
masyarakat Indonesia saat itu. Mengenyam pendidikan saja dilarang oleh belanda.
Maka
dari santri dan ulama lah yang mencerdaskan masyarakat Indonesia, lahirlah Kh.
Hasyim Asy`ari, Kh. Ahmad dahlan, HOS
Cokroaminoto, Sokarno, Agoes Salim dan tokoh-tokoh lainya, perlu patut
kita syukuri sebagai masyarakat Indonesia. Banyak keberkahan yang ada di ulama,
menurut cerita presiden pertama soekarno sebelum mengumumkan proklamasi
kemerdekaan Indonesia sempat sowan atau minta izin berkahnya dari kh.Hasyim
asy`ari. Alhalmdulillah keberkahan itu kita rasakan hingga sekarang.
Jauh sebelum lahirnya Indonesiapun, negara
Indonesia sudah di pertahankan oleh ulama dan santri dari penjajahan barat baik
belanda, portugis, ataupun spanyol
seperti perjuanganya panggeran diponegoro, kesultanan banten, kesultanan aceh,
kesultanan ternate dan tidore, semua kesultanan ini tidak terlepas dari peran
santri dan ulama. Maka dengan di tetapkanya hari santri nasional itu merupakan
apresiasi masyarakat Indonesia kepada
ulama dan santri.
Daftar
Pustaka
Ahmad
Mansyur Suryanegara, 2020, api
sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri
dalam menegakan NKRI jilid 1,
Bandung, Surya dinasti.
Adimitra
Nursalim, 2020, The remarkable story
of Soekarno, roemah soekarno.
Nurul Qomarudin, S.ag, 2018, Megono
Magazine media informasi keluarga santri pekalongan, kesip-Bogor,
Ardiansyah,
2017, Islam itu ramah bukan marah,
Jakarta, Quanta
Siti
nur aidah dan Tim penerbit KBM, 2020,
Syekh Subakir sang penakluk kerajaan jin tanah jawa, Jogjakarta, KBM Indonesia.
Yunus
ali muhdar, 2000, kumpulan kisah para wali,
Semarang, PT karya toha.
Muhammad bin alwi al maliki,
2005, umat akhir zaman, Jakarta,
iqra kurnia gemilang.
Syamsul bahri, metamorfosa
kata hati & kehidupan, Jakarta, talenta insane.
Asti Usman, 2021, sunan bonang
wali keramat, Yogyakarta, Araska.
Waitlem s.pd, surau, Solok Sumatera Barat, media pustaka.
An-Nadhir M.Ishaq Shahab, khuruj
fi sabilillah sarana tarbiyah ummat untuk membentuk imaniyah, , Bandung ,
pustaka ramadhan.
Dr.Mukthar,Mpd dan Ratih kusuma
inten pamastri, S.Sos, 2003, 60 kiat menjadi remaja millennium panduan
berbasis akhlaqul karimah, Jakarta, Rakasta Samasta.
M.Lukman Hakim.
MA, 2010, menjelang ma`rifat, Bekasi.
Muhamad ali
zenjibari, satu sumber dua corak
menyingkap islam dan Kristen, Jakarta, pustaka intermasa.
Syeikh salim bin saad nabhan, kumpulan
100 hadist nabi Muhammad saw tentang
akhlaq dan budi luhur, Surabaya,
toko kitab.
[1] Ahmad Mansyur Suryanegara, Api sejarah
maha karya perjuangan ulam dan santri dalam menegakan negara kesatuan republic
Indonesia jilid kesatu, Suryadinasti, Bandung, 2020, hlm 3
[2] Nurul
Qomarudin, S.ag, Megono Magazine media informasi keluarga santri pekalongan,
kesip-Bogor, 2018, hal 09
[3] Syeikh salim bin saad nabhan, kumpulan 100 hadist nabi Muhammad saw tentang akhlaq dan budi luhur, Surabaya, hlm 4
[4] M.Lukman
Hakim. MA, menjelang ma`rifat, Bekasi, 2010, hlm 5
[5] Muhamad ali
zenjibari, satu sumber dua corak menyingkap islam dan Kristen, pustaka
intermasa, Jakarta, hlm 27
[6] Waitlem s.pd,
surau, media pustaka, Solok Sumatera Barat, hlm 5
[7] An-Nadhir M.Ishaq Shahab, khuruj fi sabilillah sarana tarbiyah ummat untuk membentuk imaniyah, pustaka ramadhan, Bandung hlm-19
[8] Dr.Mukthar,Mpd
dan Ratih kusuma inten pamastri, S.Sos, 60 kiat menjadi remaja millennium
panduan berbasis akhlaqul karimah, Rakasta Samasta, Jakarta, 2003, hlm 3
[9] Muhammad bin alwi al maliki, umat
akhir zaman, iqra kurnia gemilang, Jakarta, 2005, hlm 243
[10] Syamsul bahri, metamorfosa
kata hati & kehidupan, talenta insane, Jakarta, hlm 38
[11] Asti Usman, sunan bonang wali keramat, Araska, Yogyakarta, 2021, hlm 3&4
[12] Yunus Ali Al-Muhdar, Kumpulan
kisah keramat para wali, PT karya toha, Semarang, hlm 14
[13] Yunus ali muhdar, kumpulan kisah para wali, PT karya toha, Semarang, 2000, hlm 13
[14] Siti nur aidah dan Tim penerbit KBM, Syekh Subakir sang penakluk kerajaan jin tanah jawa. KBM Indonesia, Jogjakarta, 2020, hlm 6
[15] Siti nur aidah dan Tim penerbit KBM, Syekh Subakir sang penakluk kerajaan jin tanah jawa. KBM Indonesia, Jogjakarta, 2020, hlm 10
[16] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm-111
[17] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm-158-159
[18] Ardiansyah, Islam itu ramah bukan marah, Quanta, Jakarta, 2017, hlm 10
[19] Nurul Qomarudin, S.ag, Megono Magazine media informasi keluarga santri pekalongan, kesip-Bogor, 2018, hal 10
[20] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm 181
[21] Adimitra Nursalim, The remarkable story of Soekarno, roemah soekarno, 2020, hlm 3
[22] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm 375
[23] Ahmad Mansyur Suryanegara, api sejarah maha karya perjuangan ulama dan santri dalam menegakan NKRI jilid 1, Surya dinasti, Bandung, 2020, hlm xxxii
Tidak ada komentar:
Posting Komentar